Liputan - Don Bosco dan Gereja di Sunter
 

“Perihal nama Paroki St. Yohanes Bosco, itu idea dari Mgr. Leo Soekoto...”

Ketika Pastor Jose Carbonell, SDB datang ke Jakarta –Indonesia tahun 1985 sebagai Delegatus Provincial Salesian, ia berniat mendirikan Yayasan Don Bosco. Tetapi betapa terkejutnya beliau ketika mengetahui bahwa nama itu sudah dipakai pihak lain di Indonesia sebagai nama Yayasan sampai Sekolah Umum! Rupanya saat itu masyarakat Indonesia sudah mengenal baik dan menghormati nama Don Bosco.

Karena nama Yayasan Don Bosco sudah diambil pihak lain, maka beliau mengambil nama Yayasan Salesian. “Namun mereka yang menggunakan nama Don Bosco itu tidak ada hubungannya dengan Komunitas Salesian Don Bosco (SDB). Mereka hanya memakai namanya saja. Sayalah perintis Salesian di Indonesia termasuk di Timtim,” jelas Pastor Carbonell tanpa bermaksud menyombongkan diri. “Tetapi karena nama Don Bosco begitu banyak di Indonesia, banyak pihak yang menyangka komunitas kami sangat kaya,” tambahnya. Pada kenyataannya, Komunitas SDB di Indonesia tidaklah ‘terlalu makmur’.

Setelah membeli rumah di Jalan Rajawali di tahun 1985, pada tahun 1994 Komunitas SDB pindah ke Sunter Jaya. Di daerah ini Pastor Carbonell membeli tanah di Jalan Mandor Iren seluas 22,000 m2 yang kemudian dibangun Wisma Salesian Don Bosco sebagai rumah pembinaan, bukan kerasulan. Wisma SDB ini kemudian dikenal sebagai Youth Centre atau tempat berkumpulnya kaum muda masyarakat.

Setelah cukup mapan di Sunter Jaya, Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoto, SJ (ketika itu) meminta Komunitas Salesian membangun Balai Latihan Kerja di Tigaraksa, Tangerang untuk membina kaum muda di sana terutama yang ekonominya kurang mampu. Mereka diberi kursus-kursus seperti komputer, Bahasa Inggris, menjahit dan memintal serta berbagai ketrampilan di bidang mekanik dan pertukangan. Perlu diketahui bahwa Komunitas Salesian di dunia terkenal dengan Sekolah Teknik atau Balai Latihan Kerja nya, dan Sekolah Teknik yang dibangun Don Bosco adalah Sekolah Teknik Katolik pertama di dunia.

Semangat Pastor Carbonell dalam melayani Gereja Katolik di Indonesia berlanjut ketika beliau ikut serta dalam Panitia Pembangunan Gereja Sunter Selatan (PPGSS) di bagian Seksi Perizinan. Ia berjuang selama lima tahun untuk mandapatkan IMB bagi gereja kita. “Perihal nama Paroki Santo Yohanes Bosco, itu ide dari Mgr. Leo Soekoto, Uskup Agung Jakarta waktu itu. Di dalam pertemuan yang dihadiri oleh banyak orang, bukan saya yang meminta nama itu, saya tidak mengusulkan nama apa-apa, saya hanya diam saja,” kisah Pastor Carbonell dengan bersemangat. Akhirnya setelah selesainya masa pembangunan secara bertahap, Paroki St. Yohanes Bosco diberkati dan diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ tanggal 31 Januari 2003 sebagai Paroki ke-54 di KAJ dan menetapkan Kongregasi Salesian Don Bosco sebagai gembala umatnya.

Tahun 2002, Komunitas Salesian melanjutkan misinya dengan berkarya membuka Wisma Salesian Don Bosco di Pulau Sumba dengan pimpinan Pastor Andres Calleja, SDB (sekarang Pastor Provincial). Dengan demikian dalam kurun waktu 20 tahun (1985-2005), sudah 4 komunitas / Wisma Salesian dikembangkan di Indonesia.

Di lain pihak, Suster-suster Salesian (FMA) pada tahun 1999 mulai membuka Komunitas di Sunter Jakarta dengan nama “Regina Pacis”. Komunitas ini memilih tempat di Sunter selain dekat dengan Komunitas para Pastor Salesian juga sebagai ‘rumah belajar’ bagi para suster muda yang masih menyelesaikan studi di berbagai Universitas di Jakarta. Meskipun sebagai rumah belajar, tapi pada hari-hari tertentu beberapa suster ikut terlibat juga dalam kegiatan di Paroki dan menjalankan tugas kerasulan seperti membantu anak-anak yang terlantar dan miskin.

Hadirnya Patung Don Bosco di Gereja Kita

Pada hari Selasa, tanggal 31 Januari 2006, pukul 17:30 (sebelum misa), Pastor Paroki memberkati secara meriah patung Don Bosco yang terletak di halaman depan Gereja. Patung ini di buat di Yogyakarta, berukuran tinggi 180 cm, namun jika ditambah dengan alas, maka tingginya menjadi 210 cm.
Patung tersebut adalah patung reproduksi. Patung aslinya sendiri berada di Italia, dan diberkati di Gereja St. Petrus, Vatican pada tanggal 31 Janiari 1936. Patung dengan ukuran tinggi 587 cm, berat 22 ton, dan dibuat dari bahan pualam dengan warna perunggu ini menggambarkan Don Bosco bersama Dominic Savio dan Zefferino Namuncura. Hal ini mengingatkan bahwa kerasulan dan misi Don Bosco adalah untuk kaum muda. Zefferino Namuncura adalah anak dari Patagonia, Argentina. Mgr. Cagliero membaptisnya dan membawa ke Roma untuk perawatan kesehatan dan melanjutkan sekolah. Ia meninggal pada tanggal 11 Mei 1905 dalam usia 18 tahun.

Pada tahun 2000, PPGSS membuat replika patung ini dengan ukuran 18 cm yang diberikan sebagai tanda terima kasih kepada para donatur pembangunan gereja kita. Heidi Awuy, yang bermain harpa di Gereja pada Misa tanggal 31 Januari juga diberi replika patung ini oleh Gereja kita, melalui Pastor Noel, SDB.

Profil Khusus :
C. Sukanto Wisbowo

Bila membicarakan soal sejarah dan pembangunan Gereja St. Yohanes Bosco, rasanya kita harus membicarakan C. Sukanto Wisnowo karena jasanya yang begitu besar.

Constantinus Sukanto Wisbowo lahir di Pekalongan, 17 November 1947. Pada tahun 1981, ia pindah dari Paroki Maria Bunda Karmel – Tomang, ke perumahan Sunter Hijau yang masih sedikit umatnya. Seiring dengan perkembangan waktu, Sunter Hijau berubah status menjadi Wilayah St. Anna, lalu ia diminta untuk menjadi Ketua Wilayah St. Anna.

Tahun 1984, dibentuk Panitia Pembangunan Gereja St. Lukas, dan ia diberi tugas di bidang dana. Ketika tahun 1994 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja Sunter Selatan (PPGSS), ia kembali menduduki jabatan sebagai Ketua Bidang Dana, sehingga ia dikenal sebagai ‘motor’ pencarian dana gereja yang banyak terobosannya. Kini ia dudukn sebagai Anggota Dewan Paroki Harian Paroki Don Bosco dan penasehat dari Koperasi Usaha Mandiri.

Dengan segudang pengalamannya di gereja, hampir semua umat mengenal wajah dari Pak Kanto. Orang yang cerdas dan super aktif di banyak bidang serta tidak pernah kendor semangatnya meskipun sudah berkarya sekian tahun lamanya. Ia pun peduli terhadap keindahan atau keasrian komplek gedung gereja. Pohon-pohon yang ditanam di halaman luar komplek gereja dan pohon sawo kecik di Plaza Maria adalah pilihannya sendiri agar komplek gereja menjadi rindang, teduh dan mengundang burung-burung pada datang, sehingga umat merasa nyaman dan damai....

Pastor Noel Meminta Maaf

Di tengah misa perayaan ulang tahun, tiba-tiba pastor Noel meminta maaf. Ada apa ya?

Suasana Selasa Sore di gereja St. Yohanes Bosco tak seperti hari-hari biasa. Misa sore pukul 18 kali itu dihadiri oleh cukup banyak umat. Bangku-bangku gereja nyaris penuh, seperti layaknya misa hari Minggu. Tak heran, tak saja karena hari itu adalah hari libur 1 Muharam, namun juga karena paroki kita tengah merayakan ulang tahun yang ke-3.

Misa sore hari itu juga sangat spesial. Tak kurang tujuh orang pastor memimpin misa bersama. Mereka adalah kedua pastor paroki kita, pastor Noel dan pastor Djoko, pastor dari wisma Salesian Don Bosco, Pastor Lino dan Pastor Peter, pastor dari Tiga Raksa, pastor Budi dan pastor Matheus, dan pastor tamu yang adalah rector di Los Palos, Timor Leste, pastor João. Misa hari itu bertemakan “We Are Family”. Tak kurang mingguan Sangkakala pun terbit secara khusus dengan format berwarna berisi kilas balik berbagai peristiwa yang menandai tiga tahun perjalanan paroki kita tercinta.

Heboh di Tengah Kotbah

Suasana yang hangat dan syahdu nampak dalam misa sore itu. Panitia dari wilayah St. Anna berusaha melayani umat dengan sangat baik, sehingga umat merasakan suasana kekeluargaan yang hangat.

Namun suasana yang syahdu sempat dibuat heboh ketika tiba-tiba Budi, koster gereja berlari ke depan altar mengejar seorang pemuda yang nyelonong tanpa permisi. Tentu saja sebagian umat yang mengetahui peristiwa tersebut jadi panik dan heboh. Ada orang asing yang hendak mengacau misa? Untungnya tidak! Ternyata kejadian tersebut adalah bagian dari kotbah pastor Noel. Melalui ‘pentas’ sesaat tersebut Pastor Noel ingin menunjukkan bahwa Don Bosco juga memulai karya Salesiannya dengan kejadian serupa, yakni ketika ia menemukan seorang anak muda yang duduk-duduk di depan sakristi. Pemuda itu kemudian menjadi tertarik dengan ajaran gereja dan memulainya dengan belajar berdoa Salam Maria.

Tak cuma sampai di situ, pastor Noel membuat kehebohan lain lagi dengan permintaan maafnya di tengah kotbah. Pastor merasa perlu meminta maaf jika ada umat yang merasa ditolak atau merasa tidak disukai. Jika hal itu dirasakan, pasti bukanlah hal itu yang dimaksudkan. Sebagai bagian dari komunitas Salesian, semangat kekeluargaan adalah ciri khas yang sangat penting dan menonjol. Oleh karena itu semangat pelayanan paroki kita idealnya juga berangkat dari ciri tersebut.

Pastor Noel juga memberikan semangat bagi seluruh umat untuk tidak puas dengan begitu banyaknya kegiatan yang telah kita laksanakan bersama selama ini. Menurutnya, bila kita sudah merasa sempurna, maka segala usaha sudah tidak ada gunanya lagi. Padahal kita harus terus-menerus memperbaharui diri dengan melakukan lebih banyak perbuatan baik untuk memuliakan Tuhan.

Syahdunya Harpa Heidi Awuy

Suasana istimewa memang sangat kental dirasakan dalam misa kali ini.
Selain karena kehadiran tujuh orang pastor yang memimpin misa, paduan suara yang membawakan lagu dengan sangat bersemangat dan petugas lain yang membuat misa berjalan dengan sangat tertib dan penuh kekeluargaan, kehadiran harpa di altar juga mencuri perhatian. Siapa sangka jika pemain harpa kondang, Heidy Awuy juga ikut memeriahkan misa dengan petikannya?

Seusai misa, beberapa anak kecil yang tergabung dalam koor anak-anak wilayah Servasius berkolaborasi dengan pastor Noel dan para gadis remaja menyanyi dan menari mengiringi lagu tema paroki,”If We Hold On Together”. Kolaborasi ini menjadi sempurna ketika Heidy Awuy mengiringi dengan petikan harpanya. Suara syahdu permainan harpa, suara anak-anak dan para gadis yang menari membuat umat seakan diajak terbang ke surga. Tentu saja tepuk tangan meriah langsung membahana di seluruh penjuru gereja bagi mereka. Setelah lagu tersebut Heidy masih didaulat untuk memainkan lagu lain, seperti “Give Thanks”. Seusai permainan harpanya, dengan rendah hati Heidy menyampaikan terima kasihnya karena diperkenankan terus berhubungan erat dengan salah satu tokoh gereja Katolik yang menjadi teladannya, yakni Santo Yohanes Bosco. Maju terus paroki St. Yohanes Bosco!
[BRG]

 
 
       

   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org
webmaster@st-yohanesbosco.org