Riwayat Orang Kudus
 

Santo Vinsensius a Paulo

Selama ini kita hanya mengenal Santo Vinsensius a Paulo sebagai pendiri serikat Congregatio Misionis. Akan tetapi, sebenarnya ada banyak sekali kisah hidupnya yang unik, menggugah hati, dan sayang untuk dilewatkan...

Santo Vinsensius a Paulo (Saint Vincent de Paul) lahir tanggal 24 April 1581 di Desa Pouy, tidak jauh dari kota Dax, Perancis Selatan. Vinsensius kecil beserta kelima saudaranya tumbuh besar dalam sebuah keluarga penganut Katolik yang ekonominya pas-pasan namun taat, rendah hati dan pekerja keras. Sifat-sifat orangtuanya ini tertanam pula pada anak-anak mereka, termasuk Vinsensius, yang paling cerdas dan berotak tajam cemerlang.
Vinsensius lulus sekolah menengah pada tahun 1596 dan memutuskan untuk menjadi imam. Vinsensius melanjutkan studinya di sebuah universitas di Toulouse, dan akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada bulan September 1600.

Salah satu orang pertama yang dilayani Vinsensius adalah Tuan Gauti, seorang Katolik yang murtad. Vinsensius berupaya menyadarkan keluarga itu untuk kembali ke pangkuan Gereja, dan ia berhasil. Setelah itu, Pastor Vinsen yang telah berusia 27 tahun pun ikut berkarya membantu pasien di Paris. Ia selalu merasa terdorong untuk meringankan beban penderitaan sesamanya. Saat itu juga, Vinsensius mendapat banyak bimbingan dari Kardinal de Berulle (tokoh besar di Perancis, imam dan sarjana berpengetahuan luas, serta tokoh idola Vinsensius). Dengannya,Vinsensius mengalami kemajuan yang pesat dalam hidup rohaninya. Ia ingin meniru Kristus dan bersatu dengan Kristus.
Vinsensius kemudian mendapat tugas dari Kardinal de Berulle untuk menjabat pastor paroki di Dusun Clichy. Sikapnya yang lemah lembut dan penuh cinta kasih segera menarik perhatian umat parokinya. Umat senang memperhatikan apa yang diucapkannya dan melakukan ajaran-ajarannya.

Setelah setahun lebih di sana, Vinsensius pun dipindahtugaskan oleh Kardinal Piere de Berulle menjadi imam pembimbing rohani keluarga de Gondi di Paris. Tugas Vinsensius di sana bukannya hanya mengajar anak-anak bangsawan de Gondi, melainkan juga berkarya menolong sekitar 7000 orang yang hidup berkekurangan di wilayah itu.

Setelah 4 tahun berkarya bersama de Gondi, Vinsensius berkarya di Paroki Chatillon yang umatnya hidup miskin dan tuna wisma. Di tengah-tengah keadaan yang menyedihkan itulah, Vinsensius datang. Sebagaimana di Clichy, ia pun mengundang umat untuk kembali ke Gereja. Banyak orang Katolik yang murtad akhirnya bertobat kembali ke pangkuan Gereja. Selain itu, Vinsensius juga selalu mendorong umat untuk selalu beramal dan saling mengasihi. Seruan Vinsensius memperoleh sambutan hangat dari sekelompok kaum wanita yang akhirnya mendirikan Perkumpulan Karya Amal yang menolong orang miskin, membantu dan menghibur orang sakit, serta memelihara anak-anak terlantar. Perkumpulan ini dengan cepat berkembang ke seluruh Perancis.

Setelah Chatillon, berikutnya giliran Paroki Paris. Ia giat menjelajahi kota-kota di wilayah keuskupan untuk menyampaikan warta gembira dan menolong orang miskin, serta kali ini... orang hukuman! Ia sering keluar masuk penjara, menghibur narapidana, menyampaikan pancaran cinta kasih Kristus, dan membuat banyak penjahat bertobat. Ia tidak segan berkorban demi menolong orang lain.

Atas dorongan Ibu de Gondi, Vinsensius mendirikan Perserikatan Imam Kongregasi Misi (Congregatio Misionis/CM). Pada tanggal 12 Januari 1633, CM memperoleh pengakuan resmi oleh Paus Urbanus VIII dan Vinsensius a Paulo ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi kongregasi itu. Saat itu, usianya 52 tahun.
Sementara itu, Perkumpulan Karya Amal yang berawal dari Chatillon makin berkembang ke seluruh Perancis dan beranggotakan kaum wanita dan ibu-ibu. Waktu terus berjalan dan beberapa dari anggota perkumpulan itu pun akhirnya menjadi novis. Mereka inilah yang kelak menjadi cikal bakal Suster-suster Putri Kasih.
Vinsensius menghadap Tuhan yang sangat dicintainya pada usia 79 tahun. Ia wafat tanggal 27 September 1660 di biara induk CM Saint Lazare. Pada tahun 1729 Paus Benedictus XIII meresmikan pengangkatannya sebagai Beato dan 8 tahun kemudian, Paus Clemens XII menyatakan ia sebagai Santo Vinsensius a Paulo. Ia diakui sebagai Bapa dan Pelindung kaum miskin, juga Pelindung segala karya amal.

Perjalanan hidupnya mengilhami seorang mahaguru di Perancis, Frederic Ozanam untuk melanjutkan karyanya dengan mendirikan Perkumpulan Cinta Kasih yang berkembang dan akhirnya dikenal dengan nama Serikat Sosial Vinsensius (SSV). Saat ini SSV juga telah hadir di Indonesia dan tugasnya sama seperti yang diperbuat Santo Vinsensius, yaitu menolong dan melayani orang miskin. Anggotanya terdiri dari kaum awam, bapak, ibu, dan para muda-mudi. [YS]

 
 
       

   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org
webmaster@st-yohanesbosco.org