Sajian Utama - Bosco Green Club
 

Manusia Indonesia
Belum Paham Tentang SAMPAH!!


Natal, yang merayakan kelahiran Yesus, bisa kita renungkan sebagai milestone dalam hidup kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Kita sebagai manusia seharusnya PEDULI akan apa yang sedang dan akan terjadi pada bumi ini.

Apa komentar anda ketika membaca judul di atas? Kita tidak akan heran dan terkejut jika mendengar pernyataan tersebut dari seorang pakar ilmu lingkungan hidup seperti Ir. Christopo Rusli, M.Si, yang juga ketua Bosco Green Club. Tapi percaya atau tidak, kalimat tersebut diucapkan oleh seorang karyawan Paroki St. Yohanes Bosco, yang juga seorang anggota Bosco Green Club.

Menurut Rusli, ketua Bosco Green Club, perbedaan yang mencolok antara Indonesia dan negara-negara maju seperti Amerika Serikat adalah pada tingkat kepedulian manusia akan lingkungan hidup. Anak-anak sekolah di negara maju telah dibekali dengan pengetahuan tentang lingkungan hidup. Mereka dapat memilah sampah mana yang tergolong sampah kering, sampah organik, dan sampah anorganik. Mereka diajarkan bagaimana penggunaan kendaraan umum akan mengurangi polusi udara. Penggunaan air yang secukupnya juga kerap menjadi sorotan yang penting pada negara maju.

Sekelompok umat di Paroki St. Yohanes Bosco telah menunjukan KEPEDULIANnya terhadap lingkungan hidup dengan mendirikan Bosco Green Club. Tidak hanya berbicara, mereka mengajak umat untuk ikut peduli akan lingkungan hidup. Sistem 3-in-1 diberlakukan, rokok menjadi sesuatu yang haram di dalam lingkungan gereja, dan umat diajak untuk membawa sampah kering ke Gereja.

Merah, hijau, atau biru?

Masih terekam dengan baik di kepala saya ketika banjir besar melumpuhkan Jakarta pada Februari tahun lalu. Mungkin bagi anak-anak sekolah, ini adalah kesempatan baik untuk mereka untuk bermain dan tidak harus pergi ke sekolah. Tetapi bagi kita, masyarakat umumnya, banjir merupakan sebuah bencana. Tidak hanya secara lingkungan hidup, tetapi juga dalam segala aspek kehidupan manusia.

Bila kita berpikir secara logis, air hujan yang turun terus menerus harusnya dapat mengalir melalui saluran air menuju laut. Tetapi pada kenyataannya, saluran air di lingkungan kita tidak dapat mengalirkan air hujan tersebut karena tertutup oleh sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan.

Tanpa kita sadari, setiap harinya kita pasti membuang sampah, baik sampah kertas, plastik atau makanan. Kita harus menumbuhkan kebiasaan memilah sampah ke dalam tiga warna. Merah, yang identik dengan bahaya, mengingatkan kita bagaimana sampah plastik (gelas, botol air minum), kaleng minuman atau botol bekas sampo yang kita buang hari ini belum tentu musnah ketika kita sudah menjadi fosil. Hijau tentunya identik dengan tumbuh-tumbuhan yang merupakan unsur organik. Sisa makanan, tisu, dan daun-daun kering merupakan contoh-contoh sampah organik yang harus dibuang di tempat sampah bertutup hijau. Warna terakhir yang harus kita ingat adalah biru. Sampah-sampah kertas, kardus dan koran termasuk dalam kelompok ini.

Menurut Nana, seorang karyawan Paroki St. Yohanes Bosco, meski tempat sampah di gereja telah dipisah berdasarkan warna, bahkan diberi gambar dan keterangan, umat masih membuang sampah tidak sesuai tempatnya. Hal ini menunjukan kekurang pedulian dan ketidak pahaman umat atas akibat yang mungkin muncul dari sampah.

Bosco Green Club juga mengajak umat untuk membawa sampah kering (botol/gelas plastik, kardus, kertas dan kaleng) ke gereja setiap minggu. Sampah kering dapat dijual dan didaur.

Terima Kasih, untuk Tidak MEROKOK

Merokok tidak hanya membahayakan kesehatan si perokok saja, tetapi juga kesehatan orang-orang yang berada di sekitarnya dan lingkungan hidup. Asap rokok merupakan salah satu sumber polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sama halnya dengan asap yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan industri, polusi udara akan mengakibatkan naiknya suhu udara di bumi.

Sebagian besar dari kita pasti pernah merasakan panasnya mobil kita setelah diparkir selama beberapa waktu. Suhu udara di dalam kendaraan akan lebih tinggi dari suhu udara di luar kendaraan kita. Panas yang terserap ke dalam kendaraan kita tidak dapat kembali ke luar dan mengakibatkan udara di dalam kendaraan semakikn panas. Secara analogi, inilah yang disebut dengan efek rumah kaca. Sama halnya dengan sinar matahari yang masuk ke dalam lapisan ozon bumi, tidak dapat keluar kembali dari bumi karena tertahan oleh gas emisi yang telah memenuhi udara. Hal inilah yang akhirnya mengakibatkan suhu udara di bumi ini semakin memanas.

Larangan merokok di dalam lingkungan gereja merupakan salah satu upaya yang dilakukan Bosco Green Club untuk menyelamatkan bumi, bukan untuk diri kita sendiri di saat ini tetapi juga untuk masa depan anak cucu kita. Kita harus memulai dari hal yang paling mudah dan paling kecil saja di lingkungan kita sen-diri, Paroki St. Yohanes Bosco.

Tempat sampah 3-in-1, ajakan membawa sampah kering dan larangan merokok hanyalah sebagian usaha Bosco Green Club untuk memupuk kepedulian umat Paroki St. Yohanes Bosco untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup. Lima seri selebaran merupakan cara lain yang dilakukan oleh Bosco Green Club untuk memberikan informasi yang mendidik bagi umat.

Cara Praktis “Mendinginkan” Bumi

Dikutip dari seri kedua selebaran Bosco Green Club, ada beberapa cara praktis dan sederhana untuk “mendinginkan” bumi. Matikan listrik. Jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Walaupun listrik tidak mengeluarkan gas karbon, tetapi pembangkit listrik merupakan penghasil emisi karbon terbesar. Ganti bola lampu dengan lampu yang lebih hemat listrik dan awet. Biasakan untuk membersihkan lampu, debu dapat mengurangin tingkat penerangan hingga 5%. Pakai AC dengan suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24 Celsius. Suhu kurang dari 21 Celsius memerlukan energi lebih besar. Gunakan panas matahari untuk water heater.

Tanam Pohon. Mulailah menanam pohon di lingkungan Anda. Hijaunya tanaman tidak hanya terlihat eksotis, tetapi juga manciptakan kondisi udara yang baik, menyuburkan tanaman, dan mencegah banjir. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik dari memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan gas karbon.

Gunakan kendaraan umum untuk mengurangi polusi udara. Hemat penggunaan kertas untuk mengurangi penebangan hutan. Penebangan hutan secara besar-besaran tidak hanya mengurangi oasis di bumi ini, tetapi juga mengurangi penyerapan air sehingga bencana banjir tidak dapat dihindari lagi.

Say no to plastic. Hampir semua sampah plastik menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Sampah plastik bisa diuraikan dalam waktu 300 tahun. Atau Anda dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur kembali.

Sebarkan berita. Sekarang semua ini menjadi pilihan Anda, menjaga planet yang indah ini, atau menjadi egois - tidak peduli dan tidak menghiraukan kebutuhan anak cucu di masa mendatang. Jangan sampai suatu hari nanti kita berpikir, “Bagaimana aku bisa kembali lagi ke masa lalu, dan membuat manusia mengerti, bahwa mereka masih mempunyai waktu untuk menyelamatkan bumi ini.” Sebarkan berita ini kepada orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi tercinta ini.
[ MD ]

 
 
       

   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org
webmaster@st-yohanesbosco.org