| KOMUNITAS
Salesian DON BOSCO DI INDONESIA
Awal mula terbentuknya komunitas
Ketika Don Bosco masih menjadi imam muda diosesan, Gereja
Katolik di Italia sedang mengalami masa sulit. Gelombang antiklerik
sedang melanda negeri itu dan penindasan demi penindasan sedang
terjadi. Gereja Katolik, khususnya kaum religius, di cela
habis-habisan.
Seorang pejabat Negara yaitu Menteri Dalam Negeri Urbano
Ratazzi memperoleh kesan lain terhadap pelayanan Don Bosco
kepada kaum muda yang kala itu menjadi problem besar. Sebagai
akibat revolusi industri yang terjadi, banyak anak muda urban
yang terlunta-lunta di kota-kota besar seperti Turin sebagai
penganguran, gelandangan dan terjerumus dalam kehidupan gelap.
Mereka menjadi bandit-bandit kecil yang ganas, pencuri yang
lihai serta brutal.
Don
Bosco menampung dan membekali mereka dengan ketrampilan-ketrampilan
praktis seperti menjadi sepatu dan pakaian, membuat mebel
serta mengurus percetakan. Ratazzi, tokoh yang amat mempersulit
gereja itu justru sangat berterima kasih akan karya Don Bosco
yang ternyata dapat meredam berbagai kenakalan remaja sehingga
warga menjadi tenteram. Beliau sangat mendukung agar karya
itu dapat dilestarikan dan untuk itu Don Bosco membentuk serikat
yang di namai Serikat Salesian. Ratazzi membantu men.cari
jalan keluar agar organisasi yang didirikan itu tidak bertentangan
dengan Undang-undang Negara dan di lain pihak gereja mendapat
tambahan spiritualitas/karisma serta suntikan semangat di
saat-saat krisis itu.
Nama Salesian diambil dari nama St. Fransiscus dari Sales.
Don Bosco yang berwatak keras amat terkesan dengan kerendahan
hati St. Fransiscus serta kebajikan-kebajikan yang lain sehingga
ia ingin pengikut-pengikutnya juga meneladani sikap itu. Ambisi
serikatnya adalah memenangkan jiwa kaum muda sebanyak mungkin.
Mottonya yang terkenal adalah: “ Berikanlah aku jiwa-jiwa
dan ambillah yang lain.”
Dalam bidang pendidikan serikat ini hadir dengan sistem preventif
yang berusaha mencegah kamu muda jatuh ke dalam dosa sejak
dini. Mereka dibiarkan melompat, berlari, tertawa dan bermain
sepuas hati agar jangan jatuh ke dalam dosa. Tujuan yang ingin
dicapai oleh sistem ini adalah: menjadi orang Kristen yang
baik dan warga negara yang jujur (good christian and honest
citizens)
Serikat yang baru ia dirikan pada tanggal 18 Desember 1859
itu mendapat pengakuan resmi dari Tahta Suci pada tanggal
1 Maret 1865 dan konstitusinya mendapat restu pada tanggal
3 April 1874. Dan sejak saat itu serikat ini terus bertumbuh
dan anggotanya bertambah banyak kendati pada awalnya serikat
ini hanya beranggotakan 18 orang (2 orang imam, 15 orang klerik
dan 1 orang pelajar). Don Bosco adalah rektor mayor yang pertama.
Setelah itu sampai saat ini ada 9 rektor lainnya yaitu: Michael
Rua, Paul Albera, Philip Rinaldi, Peter Ricaldone, Renato
Ziggiotti, Luigi Ricceri, Egidio Vigano, Juan E. Vecchi dan
yang terakhir adalah Pascual Chavez.
Di bawah pimpinan para rektornya serikat ini terus berkembang
dan merambah ke seluruh dunia. Perambahan dimulai pada tanggal
11 November 1875 ketika salah satu putera terbaik Don Bosco,
Yohanes Cagliero memimpin misionaris yang pertama ke Patagonia
– Argentina. Dalam waktu singkat Salesian hadir di Asia,
Afrika, Australia dan Amerika Latin. Dengan gaya yang khas
para Salesian berupaya membawa kaum muda kepada Kristus. Kini
Salesian telah hadir di 136 negara di dunia dengan 1107 rumah/komunitas
serta 8119 personil di luar Eropa.
Salesian DI INDONESIA
Di Indonesia karya Salesian belum begitu di kenal orang.
Umat sering mengerutkan dahi mendengar nama Salesian. Hal
ini dapat dimengerti mengingat hingga saat ini Salesian hanya
memiliki 4 rumah di wilayah Indonesia, dua di Jakarta, satu
di Tigaraksa – Tangerang dan satu lagi di Sumba.
Di Jakarta
Lambat
laun Salesian semakin di kenal di Indonesia. Pada tahun 1985
Pastor Carbonell merintis karya Salesian di jalan Rajawali
– Jakarta dan pada tahun 1994 membangun Wisma Salesian
Don Bosco di Sunter. Sejak saat itu ia tinggal bersama para
frater filosofan yang mengikuti kuliah di STF Dryarkara. Komunitas
di Jakarta merupakan komunitas pembinaan bukan kerasulan.
Umumnya Salesian yang diutus ke sini mempunyai tugas studi
filsafat dan teologi. Memang ada juga kerasulan kecil-kecilan
yang di lakukan setiap hari seperti mengasistensi (bermain
bersama sekaligus mengawasi anak-anak agar tidak jatuh ke
dalam dosa) kaum muda yang bermain bola di Wisma Don Bosco
Sunter dan kerasulan mingguan seperti mendampingi misdinar,
para katekumen, legio maria dan lain-lain. Namun yang paling
diutamakan adalah pembinaan kemampuan intelektual sehingga
aktivitas kerasulan kurang menonjol.
Awalnya Salesian tidak begitu di terima orang-orang setempat
karena kecurigaan yang berbau agama. Namun setelah mengadakan
pendekatan warga sekitar mulai mengenal Salesian dengan ikut
sertanya mereka pada misa harian maupun misa hari minggu.
Kebetulan sekali bahwa sementara umat Katolik Sunter Selatan
merasa kesulitan menjangkau Gereja Santo Lukas sehingga seringkali
misa kapel di Wisma SDB hari Minggu membludak dan umat sampai
harus duduk di taman.
Bertepatan
sekali bahwa umat Sunter Selatan telah memiliki sebidang tanah
calon Gereja yang secara resmi mendapat hibah dari seorang
dermawan pada bulan September 1992. Melihat perkembangan umat
yang pesat maka umat mengusahakan membangun tanah calon Gereja
dan Pastor Carbonell sangat aktif membantu proses awal pembangunan.
Dan pada tanggal 31 Januari 2003, Bapak Uskup Agung Jakarta
telah menyetujui bahwa Serikat Salesian yang menjadi gembala
dan pada tanggal itu pula di resmikan menjadi Paroki Santo
Yohanes Bosco. Dan inilah Paroki pertama di Indonesia yang
di pimpin oleh Salesian!
Tigaraksa – Tangerang
Sementara
itu karya Salesian terus diperluas ke luar Jakarta. Pastor
Carbonell, memelopori pembukaan Balai Latihan Kerja (BLK)
di Tigaraksa – Tangerang. BLK ini diperuntukan membina
kaum muda yang kurang mampu secara ekonomi. Mereka diberi
kursus seperti kursus komputer, kursus bahasa Inggris, kursus
menjahit dan memintal serta berbagai ketrampilan di bidang
mekanik dan pertukangan. Kursus-kursus tersebut diharapkan
dapat membantu mereka meraih masa depan. Di sini terbentuklah
komunitas pembinaan sekaligus kerasulan.
Sumba - NTT
Pada
tahun 2002 karya Salesian meluas sampai ke Nusa Tenggara Timur,
tepatnya di Sumba. Beserta 2 orang Salesian lainnya, Pastor
Andreas Calleja memimpin membuka wisma baru untuk berkarya
di sana.
Melihat perkembangan di atas, nampaknya karya Salesian tak
dapat dibendung lagi. Selama kaum muda masih ada karya Salesian
pun akan tetap berkembang. Serikat Salesian akan selalu membaktikan
diri bagi keselamatan kaum muda di mana-mana. “Karya
Salesian berkembang pesat karena didorong oleh orang-orang
yang menaruh simpati pada karya itu dan pada kaum muda yang
dilayani oleh Salesian.”
|