RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Berbuat Baik
 
Ada dua orang sahabat sedang berbincang bincang. Mereka adalah asep dan joko.

Asep : “Kalau kuperhatikan belakangan ini kamu kelihatan aneh?”
Joko : “Memang ada apa dengan saya?”
Asep : “Bila kuperhatikan setiap kamu merokok, terus diikuti dengan tertawa. Mengapa tuh?”
Joko : “Oh dua bulan yang lalu aku baca di majalah bahwa kalau merokok dapat mengurangi usia 5 menit, terus kemarin aku dengar dari acara di radio kalau tertawa menambah usia 5 menit... Nah, biar seimbang aku merokok saja dan langsung diikuti dengan tertawa…he..he.!”
Asep : ??????

Apakah yang dimaksud dengan berbuat baik? Tuhan Yesus, di dalam banyak kesempatan seperti yang ditunjukkan dalam Kitab Suci, mendefinisikan tugasNya di dunia sebagai pelaksanaan kehendak Bapa yang mengutusNya. Maka dapat dimengerti bahwa perbuatan baik menurut Yesus, sang Guru ialah melakukan kehendak Allah. Ia melaksanakan kehendak Allah itu dalam bentuk yang sangat konkret yaitu melayani dan mengorbankan diri. PelayananNya diprioritaskan pada tugas pembebasan manusia dari penderitaan hidup dan dosa. Puncak dari tugasNya ialah Ia mengorbankan diriNya sendiri sebagai tebusan atas penderitaan dan dosa umat manusia di dunia. Singkatnya, perbuatan baik oleh Yesus ialah mati demi keselamatan umat manusia yang ditebusNya.

Bagi kita, apakah yang dimaksud dengan perbuatan baik itu? Kalau standar pemahamannya seperti perbuatan baik yang dilakukan oleh Yesus, jujur saja kita angkat tangan tanda menyerah. Sedikit sekali para pengikut Kristus yang sampai pada tingkat pengorbanan diri yang radikal demi keselamatan orang lain. Mereka mengungkapkan cinta sejati seperti Yesus Kristus karena mereka tahu dan yakin bahwa hanya dengan cara itu mereka menjadi bahagia. Memang benar, berbuat baik ialah sarana utama untuk kebahagiaan. Berbuat baik itu bukan tujuan, tetapi jalan untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

Kalau kita selalu bercermin, pasti kita tahu ada sesuatu di wajah yang perlu diperhatikan, apakah merawat atau memperbaikinya. Demikian juga kalau kita selalu memeriksa batin dan kesadaran kita, pasti kita tahu ada begitu banyak hal yang ternyata tidak sesuai dengan sikap dan tindakan Yesus. Kita akan menjadi malu karena dalam satu atau lebih cara kita tidak melaksanakan kehendak Allah. Perbuatan baik itu sepertinya menjadi sesuatu yang sangat mahal untuk diperoleh. Seharusnya tidak demikian, karena kita memang sudah dikaruniai kemampuan baik jasmani maupun rohani untuk melakukan kehendak Allah.

Menyadari kerapuhan dan keterbatasan kita untuk berbuat baik, kita tidak boleh menyerah. Sikap menyerah merupakan tanda tidak dewasa atau kekanak-kanakan. Kita mesti punya keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah berjaya di atas kelemahan manusia. Sebaliknya Ia dengan kasih dan kerahimanNya, menjamin bahwa di dalam kelemahan itu kita menjadi kuat, karena Dia akan menyempurnakannya (2 Kor 12, 9).

Dengan bantuan rahmat Allah, kita akan mengatasi kelemahan dan kerapuhan kita sendiri. Tetapi ini bukan pekerjaan satu hari atau satu malam. Kita memiliki kemampuan yang memadai dan tepat untuk mengatur kelemahan-kelemahan kita. Tuhan tidak pernah menjadikan seorang manusia dengan kemampuannya lebih kurang dibandingkan dengan kelemahan atau keterbatasan yang harus dihadapinya. Manusia tidak mungkin selamat hanya dengan rahmat Allah. Ia harus berusaha juga dengan segala kemampuan dan pekerjaannya dan dengan bantuan rahmat Tuhan, ia akhirnya mendapatkan keselamatan.

Ilustrasi di awal renungan ini, meskipun memang konyol, memberikan satu pelajaran sederhana namun penting bagi kita. Orang yang merokok itu tahu dengan jelas bahwa usianya berkurang karena ia dengan sadar mulai menghancurkan hidupnya. Namun ia juga tahu bahwa ia mampu mengatasinya dengan karunia kemampauan kodrati yang ada di dalam dirinya: tertawa.

Kita manusia dapat berbuat baik dengan menggunakan kemampuan kodrati kita supaya menyeimbangkan dan dalam proses menghilangkan kelemahan dan dosa-dosa kita. Ini adalah cara menciptakan kebahagiaan atau keselamatan yang bersifat negatif. Karena kita memakai kekuatan dan kemampuan kita untuk mengatasi kelemahan dan dosa-dosa kita. Meski memang bersifat negatif, memang demikian yang selalu kita lakukan setiap kali kita membuat pembaharuan di dalam hidup kita. (P.Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org