RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Dahan Kering
 
Sebuah kisah nyata. Pada waktu saya duduk dibangku kelas tiga SD, ada suatu peristiwa konyol yang terjadi pada hari Sabtu sore. Setelah pelajaran untuk persiapan Komuni Pertama yang dibimbing oleh seorang katekis, saya dan empat teman kelas sepakat untuk keluar melalui pintu belakang yang tersambung langsung dengan kebun pastoran. Pohon-pohon mangga di kebun itu sangat menggoda kami. Tidak takut dengan penjaga kebun atau Pastor Paroki sendiri yang bisa kebetulan memergoki pencuri di kebunnya, kami berebutan untuk mencapai pohon yang buahnya lebat dan siap untuk dipanen.

Dalam sekejap kami berlima sudah berada di atas salah satu pohon mangga yang mudah dipanjat karena dahannya rendah. Yang konyol ialah kami berlima ternyata berada di satu dahan yang sama dan tidak menyadari bahwa dahan itu sudah kering. Karena tergoda oleh buah mangga yang sudah matang-matang, kami sama sekali tidak tahu bahaya yang akan datang dengan dahan kering yang tidak bisa menahan beban lima anak nakal. Kami mamasukkan ke saku masing-masing, ada yang dijatuhkan lebih dahulu ke tanah dan sungguh menikmati kesenangan itu.

Tiba-tiba kami semua dikagetkan dengan bunyi “braaak!”. Dahan kering itu patah. Kami berlima jatuh bersamaan. Di atas tanah tidak jauh dari pohon itu tiga orang teman saya posisinya satu di atas yang lainnya dan dahan kering itu menindih mereka. Saya dan seorang teman lain berada di tempat yang lain. Buah-buah mangga di saku kami hancur sehingga tidak layak dibawa pulang, malah mengotorkan pakaian-pakaian kami. Untung tidak ada yang cedera, kebetulan tanahnya agak basah karena hujan turun beberapa waktu yang lalu.

Dasar anak-anak! Bukan dosa mencuri buah-buahan di Pastoran yang harus dikutuk atau disesali, tetapi dahan kering yang menjadi sasaran kemarahan kami. Ada di antara kami yang menuduh tukang kebun yang tidak bertanggung jawab membersihkan dahan-dahan kering. Tetapi hampir kami semua mempersalahkan dahan kering itu: mengapa sudah kering begitu, tidak jatuh-jatuh juga saat hujan dan angin kemarin!

Pada waktu Tuhan Yesus berbicara mengenai “Pokok anggur yang benar” (Yoh 15, 1-8), dahan atau ranting yang kering di dalam perumpamaan itu dimaksudkan untuk menilai kualitas kehidupan kita yang telah memutuskan untuk percaya kepadaNya. Pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya memang menandakan kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang dikuduskan dan ditentukan untuk mendapatkan keselamatan. Tetapi itu semua tidak langsung menjadikan seorang manusia selamat. Untuk menjamin bahwa seorang yang telah menerima sakramen-sakramen di dalam Gereja dapat memperoleh keselamatan, ia mesti terus-menerus menghidupi imannya yang diperkaya oleh sakramen-sakramen dengan selalu connected atau “nyambung” dengan pokok anggur, Tuhan sendiri. Karena kalau ternyata suatu saat tidak lagi terhubung dengan “Batang Pohon” itu, ia pasti menjadi kering dan akhirnya hancur lalu mati.

Dahan kering merupakan simbol manusia dan kehidupannya yang berada dalam kehancuran. Hidup dalam kehancuran jasmani maupun rohani sama dengan tiadanya harapan untuk hidup. Hidup seperti ini memang terlepas dari pokok kehidupan dan itu artinya tidak ada tujuan tertinggi yang hendak dicapai, karena tujuan itu ialah kembali kepada pokok kehidupan itu. Bila terjadi kehancuran dalam hidupnya, siapakah yang bertanggung jawab atas kesalahan itu? Tentu saja bukan Tuhan sebagai pokok kehidupan yang disalahkan. Karena Tuhan tidak mempunyai kehendak untuk kehancuran dan kematian. Jadi manusia sedirilah yang menanggung akibat tingkah-lakunya yang memutuskan untuk melepaskan diri dari Tuhan, pokok kehidupan itu.

Bila anda termasuk “dahan” yang memiliki tanda-tanda menuju kekeringan, kuatkanlah kesadaranmu bahwa tanda-tanda itu tampak dalam bentuk-bentuk sikap yang sederhana. Misalnya rasa bosan dan lelah bila mulai berdoa, mendengarkan Firman Tuhan atau menjalankan suatu perbuatan kasih dan kebaikan. Perasaan-perasaan itu bila tidak dibina atau didisiplinkan maka cepat atau lambat menciptakan suatu kemandulan dalam kerohanian. Hal ini nantinya akan mendatangkan kekeringan hidup dan akhirnya kematian.

Maka daripada kehancuran itu datang dan anda hanya pasrah menerimanya, ketika tanda-tanda itu mulai tampak, berbuatlah yang terbaik untuk mengatasinya. Tuntutan mendasar dan tidak boleh diremehkan ialah kembali ke pokok yang sesungguhnya. Tidak ada salahnya kembali dalam keadaan yang sudah hancur sebagian atau hampir fatal. Karena dengan demikian berarti tindakan kembali itu merupakan penyembuhan, pembaharuan, penghiburan, penguatan, peneguhan …

Jangan biarkan dirimu terlena dalam tanda-tanda kekeringan. Jangan berkeinginan untuk menjadi kering. Tetapi stay connected with the Lord, pokok anggur yang benar! (P.Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org