Pada saat Santo Paulus mengunjungi Efesus, ia bertemu dengan beberapa pengikut. Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus." Padahal Efesus itu salah satu kota besar pada zaman Kekaisaran Romawi! Inilah sekelompok pengikut Kristus yang sama persis dengan beberapa orang Kristiani di zaman moderen ini. Mereka pernah mendengarkan sejumlah ajaran-ajaran Gereja, khususnya yang tentang moralitas. Tetapi mereka bingung harus bagaimana! Setiap saat mereka mencoba untuk menyesuaikan gaya hidupnya, mereka selalu gagal. Mereka membutuhkan Roh Kudus.
Tanpa Roh Kudus, niat kita yang paling baik tidak akan kemana-mana. Setiap saat saya melihat perut saya yang sudah makin menonjol, saya pasti menepuknya sambil berkata di dalam hati, “Kamu ini memalukan. Saya harus berbuat sesuatu tentang kamu!” Jadi segala macam janji dan niat muncul di dalam pikiran saya supaya ber-diet serta berolahraga secara lebih teratur. Tetapi kalau suatu saat, kebetulan (atau bukan kebetulan!) saya sedang lewat restoran Burger King, dan gambar double cheeseburger atau apalagi whopper sudah “senyum-senyum” kepada saya, maka bisa saja segala niat dan janji untuk berpuasa itu terlupakan!
Memang Santo Paulus benar kalau dia mengatakan bahwa keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging.... “Daging” disini bukan sekedar kecenderungan kita untuk selalu memanjakan tubuh kita (yang kita berusaha kuasai dengan bermatiraga) melainkan segala kerapuhan, kelemahan dan kedosaan kita sebagai manusia yang membutuhkan keselamatan. Kita selalu cenderung dikuasai oleh kedagingan kita, kecuali kalau kita menyerahkan diri kepada Kekuasaan yang lebih tinggi, yakni Roh Kudus. Bila kita membuka hati kepada Roh Kudus, kita menerima kembali sesuatu yang tak ternilai harganya – suatu kehidupan baru karena relasi yang baru dengan Tuhan. Saya mempunyai suatu pengalaman yang dapat menjadi ilustrasi akan kenyataan ini.
Waktu saya masih belajar Teologi, saya sangat mengagumi seorang penulis dan teolog yang terkenal. Ternyata orang tersebut sakit dan masuk di salah satu rumah sakit di kota dimana seminari kami berada. Seorang teman yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu bertanya kepada saya jika saya ingin mengunjungi dan bertemu dengan Pastor yang saya kagumi itu. “Tentu saja,” saya jawab. Kapan lagi ada kesempatan yang seperti itu? Kami datang sambil membawa beberapa buah-buahan ke kamarnya. Dia menerima kami dengan ramah dan dia memberkati kami sebelum kami pulang. Kunjungan kami berjalan hanya sekitar 4 menit (saya hampir tidak bicara apa-apa, teman saya yang banyak bercerita) tapi pertemuan itu sangat mengharukan bagi saya. Sejak saat itu, saya tidak hanya mengetahui ajaran-ajaran dan tulisan orang terkenal itu... saya juga mengenalnya. Sungguh sangat penting bagi kita untuk mengetahui segala ajaran Tuhan dan hidup sesuai dengan Hukum-Nya, tetapi yang terutama dan yang paling penting adalah bagi kita untuk mengenal-Nya! Roh Kudus itu bagaikan teman saya yang membawa kita kepada Allah dan berbicara demi kita. Dan oleh karena Roh Kudus, kita makin mengenal Tuhan. “Datanglah, ya Roh Kudus, lawatilah umat-Mu.” (P.Noel,SDB) |