RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
BERSIH, TAPI TIDAK BERSIH
 
Dalam satu atau dua hari belakangan saya menemukan beberapa pemandangan yang mengganggu pikiran saya. Iklan-iklan para capres dan cawapresnya dapat ditemukan di mana-mana. Beberapa iklan itu mengundang pertanyaan dan refleksi lebih jauh. Gambar salah satu pasangan capres dan cawapresnya tampak elegan terpampang pada papan iklan, wajah mereka berseri penuh kepercayaan diri, dan di bawah wajah mereka terbaca tulisan: Pemerintahan yang bersih untuk rakyat. Kedua tiang yang menopang papan itu berdiri di sekitar tumpukan sampah busuk. Ketika saya perhatikan lebih dekat, bau busuk menusuk itu ternyata bangkai anjing yang sengaja dibuang orang yang tidak bertanggung jawab.

Iklan-iklan serupa dari pasangan lain juga dapat ditemukan di banyak lokasi sampah. Namun orang-orang di dalam negeri Indonesia ini seperti tersihir oleh materi kampanye yang diyakini “bersih” dari cacat apa pun yang menghambat mereka meraih sukses sebagai RI 1 dan RI 2. Mereka memang nampak “bersih”, tapi sarana pencitraan diri mereka terlanjur menjadi tidak bersih karena dikelilingi sampah dan bau busuk. Hal yang sepele ini cukup untuk menggambarkan negeri ini yang besar, diyakini kuat, bermartabat bahkan disegani negara lain, ternyata di dalamnya banyak “kotoran” dan “kebusukan”. Di dalam Gereja kita juga demikian: tampak sangat elegan, besar, indah dst, ternyata di dalamnya banyak kepalsuan, kecurangan dan dosa.

Ada seorang caleg pada pemilu legislatif bulan April lalu akhirnya menelan ludah dan malu sendiri. Dalam kampanye yang dibuatnya begitu memikat hati, ia berjanji kepada orang-orang sedesanya bahwa jika berhasil ia akan berjuang sekuat tenaga untuk memajukan desanya, dan desa-desa lain di sekitarnya. Ia ditanya tentang program konkret yang akan dilaksanakan, dan jawabannya ialah program pembuatan jembatan modern yang dapat mensejahterahkan segenap warga masyarakat. Semua hadirin tambah antusias. Mereka berpikir kalau sekiranya ada program kesejahteraan yang ditawarkan seperti ini niscahya menjawab harapan-harapan yang sudah sekian lama menumpuk.

Untuk lebih meyakinkan gagasan si caleg itu, seorang tokoh masyarakat mengangkat tangannya untuk bertanya:
“Bapak caleg yang saya hormati, rencana pembuatan jembatan memang baik sekali, namun di mana-mana orang tahu bahwa ada jembatan berarti ada airnya. Desa kita ini kering dan tidak ada air atau sungai yang mengalir di wilayahnya. Maka jembatan itu pasti jadinya lucu!”

Caleg yang penuh antusias dan percaya diri itu menanggapi seakan-akan tidak menghiraukan kenyataan bahwa idenya yang tidak masuk akal itu sudah langsung dibantah habis-habisan. Ia dengan suara yang lebih yakin dan tegas berkata:
“Saya akan usahakan supaya kita mengadakan airnya dulu, setelah itu kita akan membuat jembatannya.” Menyusul jawaban caleg ini bukannya dukungan warga desa yang dianggapnya potensial untuk mendukung pencalonannya, tetapi suara gaduh di antara warga desa yang semuanya menyatakan bahwa caleg ini sudah tidak bisa diharapkan.

Dari kodratnya, kita manusia ingin untuk tampil atau mengungkapkan diri. Keinginan ini menjadi sangat kuat kalau tujuan penampilan ialah sebuah kekuasaan, nilai kenikmatan atau status. Semua pengorbanan untuk mencapai tujuan itu bisa dihalalkan. Memang benar kata orang: tujuan menghalalkan cara. Justeru dalam segala urusan pencapaian tujuan itu banyak kali yang menjadi pusat perhatian ialah wujud pencitraan, yaitu bagaimana cara, metode, jalan, penampilan dan sarana yang dipakai. Tidak lagi diperhatikan betapa pentingnya motivasi di balik itu atau tujuan yang dicapai yang tentu saja punya nilai yang tinggi. Realitasnya ialah penampilan bukan ukuran bagi isinya.

Siapa tidak menyangka bahwa jiwa manusia sedang kering dan gersang, walaupaun tubuh dan hidup lahiriah itu terus-menerus dipelihara dan dipoles indah serta diberi keharuman? Ini adalah fenomena hidup kita. Orang masuk Gereja dengan penampilan bersih, harum, seksi dan harum untuk berdoa dan menerima kekuatan Firman dan menerima diri Kristus, namun kalau motivasinya tidak benar, hatinya tidak bersih dan ia tidak bertemu dengan Tuhan, tentu menjadi suatu kebohongan. Janji perkawinan pasti terasa indah, kaul yang diikrarkan terasa sungguh mulia, janji tahbisan pasti sangat suci, dan janji permandian itu membuat seseorang putera-puteri Allah. Tetapi kalau semua itu tidak diwujudkan dalam kenyataan dan kehidupan, sia-sia saja semuanya.

Jadi kita kiranya berusaha supaya bersih mesti terpelihara untuk tetap bersih, bukan bersih tetapi kenyataannya tidak bersih! (P.Peter Tukan,SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org