RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Pastor Curhat - 3
 
Dalam homili Misa Minggu Panggilan saya melontarkan pertanyaan kepada umat yang hadir: siapakah pasangan hidup pastor? Sebagian umat sepertinya belum mengerti pertanyaan itu, maka pertanyaan diperjelas: siapakah isteri pastor? Selama tiga kali saya mencoba meminta jawaban secara spontan namun tidak ada yang berani menjawab. Akhirnya saya sebut saja Matius dan isterinya Siska yang duduk di bangku deretan kedua dari depan. Mereka berdua sepakat menjawab bahwa pasangan hidup atau isteri pastor ialah Tuhan Yesus.

Saya tanggapi bahwa Yesus itu laki-laki maka sangat menggelikan kalau isterinya juga laki-laki. Apakah tidak malu kalau memiliki Yesus homo dan juga pastor homo. Memang saat ini harus diakui terjadi di berbagai tempat skandal yang melibatkan para imam dan salah satunya ialah homoseksual. Mendengar istilah ini saja kuping jadi merah, pucat terlihat langsung di wajah, perut menjadi mual dan lebih baik tutup muka supaya tidak dilihat orang. Memalukan! Umat dan orang awam pada umumnya persis menjadi terpukul. Wajah Gereja Katolik lalu menjadi ternoda.

Saya meminta pasangan suami isteri lain untuk menjawab, kali ini Ajie dan Sovia yang saya anggap pasangan serasi dengan dua puteri mereka yang cantik-cantik mengapiti di kiri dan kanan. Pasangan ini juga sepakat menjawab bahwa isteri seorang imam ialah Bunda Maria. Saya mengelus dada tanda tidak setuju. Umat lain yang menyaksikan tersenyum dan tertawa. Masa sih pastor beristeri Maria Bunda Yesus? Lalu St. Yosef ditaruh di mana? Itu namanya cinta segi tiga. Atau lebih parah ialah selingkuh. Bayangkan kalau Keluarga dari Nasaret terlibat selingkuh dan satu pihak yang terlibat di dalamnya ialah salah satu pastor yang Anda kagumi dan sayangi. Memalukan dan sadis!

Memang perlu diakui saat ini terjadi juga perselingkuhan dalam hidup para imam. Tidak tanggung-tanggung seorang imam bisa menambatkan hatinya pada isteri orang karena mungkin kedua-duanya sama-sama suka. Atau seperti perkiraan banyak orang, wanita atau isteri tersebut sedang mengalami kekosongan dalam hidup perkawinannya maka tempat yang paling menjamin rahasia perselingkuhan ialah pribadi seorang imam. Sang wanita sungguh percaya makna selingkuh itu: selang-seling keluarga utuh! Apakah benar rahasia tetap terjamin? Jangan cepat percaya. Karena selingkuh itu sama dengan kentut. Ia pasti sembunyi-sembunyi namun baunya sangat terasa di mana-mana. Jadi meski pasangan selingkuh-pastor berdoa banyak sekali supaya cinta gelap mereka jangan sampai terbongkar, keadilan Tuhan pasti akan membongkarnya juga.

Kita semua yang menghadapi permasalahan seperti itu sungguh merasa betapa malu dan marah. Tuhan pasti murka. Wajah Gereja dan umatnya, terutama para pemimpinnya, dipertaruhkan. Biasanya media massa dan dunia sekuler sangat ambisius dengan persoalan seperti ini. Mereka akan memakai kelemahan ini untuk memalukan dan menjatuhkan Gereja di hadapan seluruh dunia. Mereka juga dapat menuai keuntungan banyak uang dengan permasalah pelik seperti ini. Tapi mungkin yang sangat memprihatinkan ialah iman dan kesetiaan umat beriman pada umumnya menjadi terancam. Mereka akan dengan muda mengambil kesimpulan bahwa Gereja ini sudah tidak layak lagi untuk didiami. Tidak ada kegunaan lagi untuk menjadi bagian darinya. Lebih baik tidak beriman karena hanya makan hati!

Pasangan berikutnya yang saya minta jawabannya ialah Sanohi dan Sally, salah satu pasangan yang baru saja merayakan 25 tahun perkawinannya. Ibu Sally dengan berani memberi jawaban bahwa pasangan hidup pastor ialah biarawati. Masa sih! Mungkin Sanohi dan Sally ini sering melihat saya banyak kali berbicara dengan salah satu suster dan sepertinya mereka berpikir bahwa itu adalah pasangan ideal. Saya pernah mendengar bisik-bisik di antara ibu-ibu bahwa pastor yang satu ini sangat dekat dengan seorang suster, bahkan isunya sudah menjurus ke hal yang sangat intim.

Tapi terus terang saat itu kedekatan pastor dan suster hanya dalam batas konsultasi pekerjaan dan terutama pendampingan terkait dengan kuliah suster yang sudah mendekati final. Saya sendiri merasa bahwa suster ini sosoknya cantik dan menarik, terbukti bahwa ia menarik banyak perhatian. Bahkan sejumlah muda-mudi di gereja pernah berkata bahwa sayang sekali suster masuk biara, bikin sengsara saja! Lebih baik di luar biara, karena cowok yang ganteng dan kaya pasti takluk padanya. Lalu saya ini apa? Wajah dan penampilan saya tidak sebanding dengan suster itu. Perbandingannya seperti Jakarta dengan Weepengali, Sumba Barat Daya alias udik. Hanya karena saya seorang imam maka menjadi modal daya tarik. Tapi bila bukan seorang imam saya pasti seperti para tukang ojek yang pargi pagi pulang sore untuk tarik penumpang langganannya. Lagi pula kalau memang pernah terjadi seorang pastor terlibat affair dengan seorang biarawati, Gereja Katolik pasti menjadi lembaga yang terhina. Mereka kan orang-orang berjubah, tapi kenapa mereka menciptakan konspirasi dan kejahatan terselubung atau kejahatan terbuka? Jadi saya sama sekali tidak sepakat dengan Sanohi dan Sally yang berpikir bahwa pasangan hidup seorang imam adalah seorang biarawati.

Lalu saya meminta seorang remaja namanya Denny yang duduk bersama orang tuannya di bangku nomor dua dari depan untuk menjawab pertanyaan tadi. Ia berkata bahwa bapa dan ibunya sangat mengagumi pribadi seorang imam. Ia sangat senang ketika suatu saat keluarganya mengundang pastor untuk makan malam di salah satu restoran di Muara Karang. Saat itu pastor berbicara cukup serius dengan kedua orang tuannya. Hal itu cukup membuat dia merasa tepat untuk mengatakan bahwa seorang pastor memang sangat tepat menjadi bagian dari keluarga mana pun. Nampak bahwa kedua orang tuannya sangat serasi kalau berbicara atau bersama-sama dengan seorang imam. Kisah Denny ini menyentak hati saya. Maka saya langsung menanggapinya dengan berkata kepada seluruh umat yang hadir bahwa Denny memberi jawaban yang benar. Semua yang hadir bertepuk tangan. Dan saya tegaskan bahwa pasangan hidup atau isteri seorang imam adalah pasangan suami isteri dari setiap keluarga. Pastor tidak bisa berpasangan dengan suami saja atau isteri saja. Ia harus berpasangan dengan keduanya yang sudah membentuk satu daging karena perkawinan yang disucikan.

Persekutuan antara pribadi pastor dengan suami isteri ini menggambarkan kaitan yang begitu kuat antara Sakramen Imamat dan Sakramen Perkawinan. Kedua Sakramen ini memiliki tujuan yang sama yaitu membangun Gereja, wujud nyata dari Kerajaan Allah. Persekutuan ini secara langsung menggambarkan hubungan yang begitu intim dan menyatu antara Kristus dan Gereja, antara Allah dan manusia.

Jadi pastor dan suami-isteri, hiduplah dalam persekutuan yang dikuduskan. Kalian berpasangan bukan karena pilihan masing-masing, tetapi karena ditentukan oleh Tuhan. Kalian dipanggil untuk menjadi saksi kekudusan dan kesetiaan. Kalian harus saling mendukung dan melengkapi. Semoga. (P.Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org