RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Pastor Curhat - 4
 
Sebelum masuk biara, saat itu usia saya masih remaja antara 15-18 tahun. Saya alami yang namanya perjuangan hidup sebagai remaja. Dibandingkan dengan para remaja umumnya, atau lebih tepat remaja sekarang, saya hidup lebih sebagai seorang pekerja-pelajar. Kerja menjadi 60 persen dibandingkan dengan belajar yang hanya 40 persen. Banyak kali saya terlihat membawa buku pelajaran di tempat kerja.

Dalam hari-hari biasa setelah makan siang, saya ada di bengkel kayu milik orang yang masih keluarga dekat. Kerja sebagai tukang kayu saya lakukan tanpa mengeluh atau bosan. Saya tahu bahwa upah dari kerja itu akan menutup biaya hidup setiap hari. Pada waktu liburan panjang saya menemukan diri saya menjadi tenaga kerja bangunan. Di sini pekerjaan lebih kompeks karena berurusan dengan pasir, semen, batu, sekop, seng, kayu dll. Bangunan rumah keluarga, gudang, kantor atau sekolah sudah pernah saya jatuhkan keringat saya di atasnya. Saya tahu bahwa upah semua kerja ini dapat menutup semua biaya sekolah saya selama tiga tahun. Keluarga saya sungguh tidak sanggup karena ada tiga anak yang harus dibiayai.

Kalau direnungkan, sebenarnya pengalaman Yohanes Bosco hampir sama. Ia sungguh bekerja lebih dari yang diharapkan dari seorang anak dan remaja supaya cita-cita belajarnya sukses. Kerja seperti ini menjamin supaya cita-cita itu survive! Saya punya cita-cita tinggi untuk menjadi orang berguna di masa depan dan hal itu hanya dapat ditempuh dengan belajar. Namun belajar di sekolah perlu biaya dan ternyata bahwa biaya itu tidak cukup. Jalan keluar yang paling konkret ialah bekerja. Saya punya tenaga, kemauan dan keberanian sehingga bekerja kasar dengan mengandalkan otot tidak menjadi halangan.

Kerja sungguh membentuk karakter seseorang. Sampai detik ini, saya ingin selalu berkata pada diri saya untuk bekerja dan bekerja. Saya setuju dengan Don Bosco dan orang-orang kudus lain bahwa betapa mulianya seorang pelayan Tuhan yang mati sedang bekerja. Di kedalaman hati, saya membatinkan tekat ini, bahwa nanti saya meninggal dunia di tempat saya bekerja.

Banyak godaan hilang dan tidak mudah menaklukkan saya karena saya sibuk bekerja seluruh hari. Pikiran saya aktif dan kreatif. Demikian juga fisik difungsikan untuk keperluan apa pun. Dengan demikian saya temukan diri saya dalam keadaan mobile. Ini yang menandakan karakter diri saya. Saya bayangkan, seandainya seorang imam seperti saya tidak membuat pikiran dan tubuhnya aktif, sangat mungkin ia mengisi waktu atau memakai energinya untuk hal-hal yang tidak berguna. Siapa tahu yang tidak berguna itu adalah kesalahan atau dosa!

Pernah pada waktu sedang bekerja di proyek bangunan gedung sekolah dasar, ada sekelompok orang muda mencari saya. Mereka adalah teman-teman sekolah yang tidak menemukan saya di rumah, mereka diberitahu untuk bertemu saya di antara para tukang bangunan. Saya mengintip dari balik bata-bata yang akan tersusun menjadi tembok. Saya melihat lima orang teman kelas yang saya anggap paling dekat. Mereka ingin supaya saya bergabung dalam lomba cerdas cermat SLTA seluruh kabupaten. Dua yang sudah siap adalah perempuan. Osis telah mendaulat saya untuk menjadi kartu utama, yang akan menjadi penjawab. Maklum karena kemampuan intelektual dan komunikasi saya diakui di sekolah.

Ada sejuta perasaan malu untuk bertemu mereka. Keadaan saya kotor dan bau dengan keringat. Mereka tampak bersih, cantik dan ganteng. Mereka tampil meyakinkan. Saya tampil tak percaya diri. Seorang gadis remaja nekat bertemu kepala tukang supaya berbicara dengan saya. Dia adalah Elisabet yang saya tahu suka sekali dengan saya. Banyak kali ia saya bantu dalam soal belajar. Sepertinya ia sangat bergantung pada saya. Ia rela meminta izin berulang kali dari Suster di asramanya untuk datang ke rumah saya untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau hanya menanyakan satu hal sederhana tentang pelajaran. Orang-orang mengira bahwa kami berpacaran. Padahal tidak ada bukti tentang itu, apalagi tidak pernah terlintas dalam rencana hidup saya.

Tak disangka dan dalam sekejap, Elisabet sudah berada di hadapan saya. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulut saya. Elisabet yang lebih mengerti keadaan saya, spontan bersama saya mengangkat campuran semen-pasir untuk diberikan kepada tukang yang menyusun tembok. Pada kesempatan itu, Elisabet mengutarakan maksud kedatangan mereka. Ia menguatkan saya, bahwa tidak perlu ada rasa malu. Kerja yang saya lakukan adalah halal. Rasa malu ada kalau kita berbuat salah atau dosa. Sepanjang kita berbuat baik, bekerja untuk bertahan hidup, hidup sehat dan positif tidak ada alasan untuk menjadi malu. Lalu saya menyanggupi ajakan mereka. Minggu berikutnya kami bertemu di rumah orang tua Elisabet dan mulai membuat persiapan lomba.

Keluarga Elisabet memiliki bisnis yang cukup berhasil. Mereka dipandang sebagai orang berada. Kedua orang tuanya sangat mengagumi saya, bukan hanya karena saya banyak membantu anaknya, tetapi karena perjuangan hidup saya. Suatu ketika, sang bapak berkata spontan bahwa kalau saya bekerja saja dengan keluarganya dan sangat mungkin nanti dijodohkan dengan Elisabet. Ketika disinggung beberapa kali, saya spontan menjawab bahwa pilihan hidup saya lain. Saya sudah memutuskan untuk masuk seminari dan nanti menjadi seorang imam. Ketika Elisabet mengetahui hal itu, ia berubah menjadi pendiam. Ia tidak ingin mengucapkan salam kepada saya saat saya tinggalkan kampung halaman untuk meraih cita-cita. Ia baru menikah dengan suaminya sekarang setelah saya ditahbiskan menjadi imam delapan tahun yang lalu. Sejak itu baru ia tersenyum dan akrab lagi dengan saya.

Sungguh! Pengalaman kerja memang powerful! Terima kasih kepada orang-orang yang membatu saya dalam bekerja, teristimewa Elisabet. (P. Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org