RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Pastor Curhat - 5
 
Gaya pendidikan yang keras atau otoriter biasanya menghasilkan seseorang takut untuk berbuat salah. Sedangkan pendidikan yang sangat menghargai keterbukaan akan menghasilkan seseorang tidak takut berbuat salah. Paling tidak saya mengalami kedua-duanya. Pada waktu masih kanak-kanak hingga remaja, saya mendapatkan pendidikan dari orang tua yang memakai kedua gaya tersebut. Dalam urusan-urusan disiplin belajar, sopan santun dan iman, saya akui sangat tegas. Selalu saja ada hukuman kalau tidak berdoa di lingkungan. Selalu saja ada rotan yang mengenai pantat kalau kedapatan tidak sopan dalam kata-kata atau perbuatan. Selalu saja ada kotbah yang memerahkan telinga kalau disiplin belajar dilanggar.

Namun karena saya selalu rangking satu di kelas dan langganan nomor satu atau dua dari sepuluh besar sekolah, di lain pihak saya sering mendapatkan kepercayaan untuk menjadi kreatif dan mandiri. Contohnya pernah saya yang memegang uang untuk membayar biaya sekolah kakak, saya dan adik. Pernah juga saya yang disuruh untuk belanja di pasar daripada tiga kakak saya yang perempuan. Ketika di stasi akan diadakan pembuatan kandang Natal, saya yang dipromosikan untuk menjadi wakil dari keluarga untuk terlibat bersama wakil dari keluarga-keluarga lain pekerjaan itu. Yang jelas saya sungguh menikmati kepercayaan itu dan saya merasakan tumbuh dengan kepercayaan yang diberikan kepada saya.

Bekal pendidikan dari keluarga tersebut sangat berguna ketika saya mulai berada di dalam biara. Gaya pedidikan dan pembinaan dalam biara memiliki ciri khasnya tersendiri. Saya selalu berusaha menemukan bahwa setiap cara dan pendekatan punya nilai mendidik. Meskipun banyak kali pengarahan atau peringatan yang diberikan selalu membuat sakit di hati, rasa malu dan tertekan. Meskipun banyak kali usaha dan kerja yang baik tidak selalu mendapat apresiasi seperti yang saya sendiri harapkan. Meskipun harus berkorban banyak bahkan ikut menanggung kesalahan sesama dalam satu angkatan atau kelompok kerja karena perasaan kolektivitas di antara kami. Tetapi semua sisi tidak menyenangkan itu sungguh menjadi pengalaman berharga karena saya bisa belajar untuk kreatif, menempatkan diri, menyesuaikan diri dan membaharui diri.

Sesungguhnya yang sangat membantu dalam pembinaan diri, menurut pengalaman saya dalam masa pembinaan, ialah supaya saya tidak takut berbuat salah. Sistem hidup dalam seminari dan biara ialah sistem yang memberi penekanan pada semangat penyangkalan diri. Mengapa? Karena semangat hidup manusia sering ditantang oleh semangat hidup Yesus yang sepenuhnya tidak memakai logika manusia. Bayangkan saja, yang dianggap manusia kuat dan pandai bagi Yesus lemah dan sahaja. Yang menjadi pemimpin sebenarnya adalah pelayan. Yang menjadi pertama ialah yang terakhir. Orang yang memilih untuk menekuni hidup dalam seminari untuk menjadi imam atau yang hidup dalam biara menemukan dirinya dalam keadaan kontras, karena banyak kali ia harus berperang melawan keinginan-keinginan pribadinya. Dengan kata lain, ia yang adalah sepenuh daging dan memilih untuk menekuni panggilan suci ini, mau tidak mau harus menghidupi “kedagingannya” menurut cara hidup roh. Hal itu memang sangat sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Buktinya, saya sendiri dan banyak imam, biarawan dan biarawati yang menikmati cara hidupnya sampai detik ini.

Kembali ke hal tentang “tidak takut berbuat salah”, tema ini menarik perhatian saya karena dua tingkat pemahaman yang berbeda dalam kaitannya dengan penghayatan panggilan hidup. Berdasarkan gaya pembinaan bernuansa penyangkalan diri seperti sepintas diuraikan di atas, saya percaya bahwa berbuat salah adalah sesuatu yang menjadi bagian dari pembinaan dan pendidikan menjadi imam, biarawan atau biarawati. Proses untuk menjadikan penyangkalan diri bagian disiplin hidup merupakan sesuatu yang berat dan melelahkan. Seseorang harus menjalankan latihan terus-menerus. Ia pasti mengalami betapa kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang kali atau sepertinya setiap hari selalu saja ada yang harus diperbaiki.

Maka ia tidak boleh takut berbuat salah. Kalau ia takut berbuat salah, ia akan sulit mengalami yang namanya perubahan atau perbaikan. Bisa saja ia tidak punya kemungkinan bervariasi untuk menyesuaikan diri, kreatif, mencoba sesuatu yang baru, bahkan mengenali diri sendiri. Saya punya beberapa rekan baik yang seangkatan maupun kakak tingkat atau adik tingkat yang sama-sama menjalani pembinaan dalam biara dan seminari. Mereka berusaha sedimikian supaya tidak jatuh dalam kekeliruan atau salah. Akibatnya mereka memang merasa nyaman dan lancar-lancar saja. Mereka tidak pernah ditegur, diingatkan atau diperbaiki. Bahkan karena hidup mengalir begitu lancar dan aman, mereka sudah dianggap tidak punya salah. Mereka menjadi sangat percaya diri. Terkadang tingkah lakunya yang cenderung egois ditolerir saja karena sudah terlanjur dianggap tidak punya salah. Mereka yang masuk biara untuk menjadi imam atau biarawan dan biarawati adalah juga orang-orang berdosa. Pembinaan dan pendidikan bagi mereka punya tujuan untuk membuat mereka menjadi orang-orang baik, sempurna dan kudus. Tetapi jika ketika selama dalam pembinaan dan pendidikan atau selama menjalani cara hidup khusus ini mereka sudah menjadi “orang kudus”, seharusnya mereka tidak boleh berada di dalam biara. Mereka sudah harus berada di surga! Sejumlah rekan saya yang tergolong dalam kategori ini, saat ini mereka sudah bukan imam atau biarawan. Satu per satu telah keluar selama masa-masa pembinaan.

Pemahaman lain mengenai tema ini terinspirasi oleh kisah-kisah dalam Injil mengenai orang-orang berdosa yang dianggap sampah oleh orang-orang beragama, sementara oleh Yesus mereka akhirnya bertobat. Kisah mengenai seorang perempuan kedapatan berzinah sangat menyentuh (Yoh 8, 1-11). Sebenarnya dapat diakui bahwa perempuan ini tidak takut berbuat salah, tidak takut menghadapi ancaman mati dan tidak takut berhadapan dengan Yesus. Hasilnya adalah luar biasa. Ia menjadi baru lagi karena orang terakhir yang ia hadapi ialah Yesus Kristus Sang Pembebas. Sebaliknya para penuduh atau penghukum tergolong sebagai orang-orang yang takut bersalah. Mereka menghakimi perempuan itu sebenarnya merupakan penindasan terhadap diri mereka sendiri. Mereka menelan tindakan jahat mereka sendiri ketika Yesus membuktikan bahwa mereka juga adalah para pendosa. Siapa tahu di antara mereka ada sejumlah laki-laki yang melecehkan perempuan itu! Perempuan itu akhirnya pergi sebagai orang yang tertebus, orang kudus dan milik Yesus.

Kita akan berjalan bersama dengan Yesus dalam perjalanan salib menuju Golgota. Salah satu strateginya ialah supaya kita tidak takut berbuat salah. Karena Yesus akan membaharui semuanya. [size=1(P.Peter Tukan, SDB)[/size]

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org