Masih dalam Oktaf Paskah, pengalaman bertemu dengan Tuhan yang bangkit mestinya masih terus menjadi pusat perhatian kita. Banyak di antara kita yang berbagi renungan atau meditasinya tentang begitu indahnya pengalaman berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Pada hari Minggu Paskah, 4 April kemarin, lima orang baptisan baru begitu melihat saya dari jauh mereka langsung mendekati dengan wajah-wajah yang ceria. Dalam hati saya berkata pada diri sendiri: mereka pasti sedang menemukan suatu pencerahan. Sedang on fire begitu! Menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana perasaan masing-masing, semua memberikan jawaban yang sama meskipun tidak pernah mereka berdiskusi lebih dahulu: Saya bertemu dengan Yesus yang bangkit. Saya menjawab mereka: Luar biasa! Ada sedikit keluhan di dalam hati: saya yang habis-habisan bekerja memberikan pelayanan sepanjang masa Prapaskah lalu yang paling melelahkan dalam Pekan Suci, tidak pernah terbayang bahwa saya menemukan Yesus, lalu mereka ini yang baru saja dibaptis seenaknya berkata dengan bangga demikian!
Tetapi saya menjadi terhibur. Mereka berlima dan 60-an baptisan baru yang lain pasti punya alasan masing-masing untuk membenarkan diri bahwa mereka bertemu dengan Yesus yang bangkit. Melihat kembali semua pelayanan yang saya berikan selama ini dan khususnya selama masa Prapaskah dan Pekan Suci, saya harus puas dan bangga untuk mengatakan bahwa saya melihat dan berjumpa dengan Yesus yang bangkit di dalam setiap pelayanan imamat saya. Saya selanjutnya bertanya pada diri: apakah ada kegembiraan dalam semua pelayanan tersebut? Ini merupakan sebuah pertanyaan serius, karena sejujurnya banyak kali saya menjalankan pelayanan imamat lebih didasarkan pada kesadaran akan tugas, tuntutan kebutuhan atau yang bisa disebut urgency of the Kingdom, kejar target rencana yang sudah dijadwalkan.
Pertanyaan itu mengantar saya kepada suatu meditasi dalam keheningan hari Sabtu Suci pagi ketika suasana sangat hening di Wisma Salesian Don Bosco. Keheningan itu sama dengan keheningan batin setiap orang yang sedang berkabung karena wafatnya Sang Juruselamat dunia. Suatu keheningan batin yang tidak sepenuhnya sedih karena sebenarnya adalah penantian penuh pengharapan bahwa pada Malam Paskah kemenangan Kebangkitan Kristus akan jaya. Yesus harus bangkit seperti yang dikehendaki Bapa di surga. Dalam meditasi yang sangat berguna itu, saya mencoba mengevaluasi diri tentang pelayanan yang selama ini saya berikan. Saya mengkritisi diri tentang setiap bentuk bantuan, perhatian, pendampingan atau kerja sama, apakah semuanya dibungkus dengan kegembiraan. Saya pada satu pihak seperti seorang murid yang menangisi nilai rapor merah, menyalahkan diri dan mencoba menetapkan resolusi untuk perbaikan yang perlu. Di lain pihak saya seperti seorang guru yang mencoba sebisanya mengajar diri sendiri dan seolah-olah mengajar orang-orang yang sedang mendengarkan saya. Jadilah sebuah catatan refleksi seperti berikut ini.
Pelayanan yang menggembirakan itu bagaimana? Suatu pelayanan yang menggembirakan mesti berbuah dobel: baik pelayan maupun yang dilayani sama-sama merasa gembira. Pribadi atau kelompok yang melayani, tindakan melayani, motivasi pelayanan dan pihak yang dilayani merupakan aspek-aspek yang penting untuk diperhatikan kelayakannya sehingga suka cita yang tercipta mengarahkan semuanya untuk mengakui bahwa pelanyanan itu mulia, manusiawi dan menjawab kehendak Allah. Mungkin ilustrasi ini dapat berguna. Anto anak berusia 9 tahun, sebelum pergi mengikuti Misa hari Minggu, ibunya memberikan dia 5.000 rupiah. Ia pergi ke ayahnya lalu ia diberikan 2.000 rupiah. Kedua pemberian itu dimaksudkan untuk kolekte. Pada saat kantong kolekte sedang diedarkan, Anto ingat betul kotbah Pastor yang mengatakan bahwa kalau memberikan sesuatu harus ada rasa gembira di hati. Orang harus merasa gembira dengan sesuatu yang akan diberikan kepada orang lain dan perbuatan memberi harus dengan gembira pula. Pada waktu kantong kolekte sampai ke Anto ia mengambil 2.000 di saku kirinya dan memasukan ke kantong kolekte. Ketika ditanya oleh ibunya mengapa tidak memasukan 5.000 rupiah yang diberikan tadi, Anto dengan percaya diri berkata bahwa ia mengikuti saja kotbah Pastor. Ibunya bertanya: "Pastor katakan apa dalam kotbahnya?" Anto menjawab: "Kalau memberi harus ada rasa gembira. Maka saya merasa gembira untuk memberikan yang 2.000 rupiah, sedangkan yang 5.000 saya sama sekali tidak merasa gembira untuk diberikan."
Demikian, sering terjadi bahwa kita memberikan pelayanan atau bantuan berdasarkan kegembiraan kita yang sepihak. Sementara kita tidak peka akan kegembiraan atau kepuasan oran yang akan menerima pemberian kita. Hal ini sebenarnya masih harus diperbaiki. Karena suatu pemberian bantuan atau pelayanan yang menggembirakan mesti memperhitungkan bahwa saya yang memberi merasa gembira demikian juga orang yang menerima mendapatkan kegembiraan. Pelayanan yang menggembiarakan selalu mengambil contoh dari Yesus sendiri, karena bukan tindakan pelayanan sendiri yang hendak ditonjolkan, tetapi demi kemuliaan Allah dan kebaikan manusia. Dua alasan inilah yang membuat suatu pelayanan menjadi mulia, indah dan menggembirakan. Secara konkret, bagaimana dapat kita lakukan dengan baik? Ada beberapa syarat yang dapat ditunjukkan di sini.
Pelayanan itu harus diberikan dengan segera. “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu” (Amsal 3,28). Pelayanan atau bantuan kepada sesama hendaknya dilakukan untuk tidak diketahui orang lain. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mt 6,3). Pelayanan dan bantuan harus diberikan dengan gembira. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9,7). Pelayanan dan memberikan bantuan hendaknya mempertahankan aspek hormat atau respek orang-orang miskin dan bukan dengan semangat membodohkan atau membuat mereka sangat bergantung. Sikap tidak sabar terhadap orang miskin justru mengurangi nilai kemurahan hati itu sendiri.
Pelayanan harus diberikan demi kasih kepada Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mk 9,41). Kita juga harus melayani dengan tidak menuntut balasan. “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lk 6,35). Ia juga mengatakan yang sama kepada orang yang mengadakan pesta untuk mengundang orang miskin dan tak berpunya, supaya mereka tidak punya apa untuk memberi sebagai upah atas undangan itu (bdk Lk 14,12-13). (P.Peter Tukan, SDB) |