RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Pastor Curhat - 7 bag. 2
 
Pada Sabtu sore akhir bulan November saya berada di Guimaras. Sr. Natalia telah menerima pesan singkat yang saya kirim dari Manila sehari sebelumnya sehingga seperti yang saya duga, ia sudah siap menyambut saat pumboat yang saya tumpangi bersandar di Jordan Port. Kami berjabat tangan, lalu berpelukan untuk melepaskan rindu. Dia menemani saya ke biara Benediktin (Trapist), tempat saya menginap hanya semalam. Ia mendapat ijin dari Superiornya untuk menemani saya. Kami berbagi cerita, pengalaman dan banyak hal lain. Kami ungkapkan rasa gembira terhadap satu sama lain karena dapat bertemu dan bersama sekali lagi. Saya belum sempat mengungkapkan tujuan kedatangan saya untuk bertemu dengannya. Menjelang jam 6 sore saya menemani dia ke biaranya yang berjarak sekitar belasan kilometer dari biara Trapist.

Kami berdua saja duduk di ruang tamu biara. Udara bulan November yang sejuk membuat kebersamaan waktu itu terasa semakin indah. Kami masih ingin berbagi lagi mengenai berita-berita dari keluarga kami di kampung. Ia sangat gembira dengan hidup dan pekerjaannya di Guimaras. Ia merasa sungguh sebagai misionaris. Ia sangat menikmati kerasulannya di sekolah di mana anak-anak sungguh menyatu dengannya. Menyimak semua penuturan itu, saya seperti mendapat pintu masuk untuk mengajaknya berbicara tentang dia dan saya.

“Waktu saya tinggal malam ini, “demikian saya memulai, “maka saya ingin serius denganmu. Kamu pasti paham yang saya maksudkan.” Dari wajahnya tampak bahwa ia tidak keberatan. Justru hal itu juga harapannya supaya kami bisa berbicara dengan jelas dari hati ke hati. Ia ingin diam saja dan mendengar. Saya melanjutkan, “Merupakan suatu kabar gembira bahwa kamu bahagia di sini dan sungguh menikmati kerasulanmu. Saya percaya kamu tidak akan kecewa dengan panggilanmu sebagai biarawati, seperti juga saya percaya pada diri saya. Saya melihat kamu bahagia sebagai seorang suster dan seorang misionaris. Saya juga melihat diri saya dan saya bangga bahwa saya seorang imam. Bangga dan bahagia merupakan kenikmatan rahmat Allah. Kita menanggapi itu dengan penyerahan diri kita, dengan selibat kita. Percayalah, kamu dan saya tidak hanya bahagia sekarang tetapi juga nanti karena kaul kemurnian yang kita hidupi dang selibat yang kita jalani. Saya ingin melihatmu bahagia sebagai seorang biarawati, dan mati sebagai biarawati.” Sr. Natalia tertunduk, diam, mengangguk sedikit lalu mengangkat muka, menatap saya dan berkata: “Ya, saya setuju!”

Jam di dinding menunjuk pukul 8 malam. Saya mengajaknya berdiri dan kami berpelukan. Dari balik kaca jendela saya melihat taksi memasuki gerbang dan parkir di samping gua Maria. Dalam pelukan itu saya membisikkan dia: “Minggu depan saya kembali ke Indonesia. Sudah ada tugas baru menanti. Saya akan liburan dulu di kampung. Di sana saya akan menyampaikan kabar gembira kepada orang tuamu, saudara-saudarimu dan teman-temanmu. Kabar yang sangat mereka perlukan, yaitu bahwa kamu bahagia sebagai seorang biarawati di tanah misi. Saya akan tetap mengingatmu. Semoga kita saling mendukung dalam doa.”

Kami melepaskan pelukan. Di mengantar saya ke luar dan taksi sudah siap membawa saya pergi. Kami berpisah dengan hati yang damai. Sejak saat itu rasa cinta yang ada di antara kami adalah sebagai sahabat, saudara atau rekan sepanggilan. Ketika sudah berada di Indonesia, sesekali dalam setahun kontak masih terjadi. Bahkan pernah sampai tiga tahun tidak ada kontak karena ia mendapat tugas di tempat terpencil yang tidak ada akses telekomunikasi.

Tahun ini saya merayakan ulang tahun imamat yang kesepuluh. Saya membuka email pada hari tahbisan, di sana saya temukan banyak ucapan ucapan selamat dan nasihat-nasihat yang menguatkan. Salah satunya datang dari Solomon Islands, tepatnya wilayah Keuskupan Gizo. Pada attachement ada sejumlah foto tentang operasi penyelamatan dan pelayanan pasca bencana di kepulauan New Georgia yang sebagian besarnya hancur karena gempa bumi berskala 7,2 richter pada minggu pertama Januari 2010. Di dalam gambar-gambar itu nampak jelas Sr. Natalia bersama relawan lain bekerja siang malam dalam operasi kemanusiaan tersebut.

Setahun sebelum gempa ia diutus bersama beberapa suster dari tarekatnya untuk membuka misi baru di Solomon Islands. Betapa suka citanya dia ketika menerima penugasan itu. Ia sangat bahagia dengan dirinya saat ini dan dengan apa yang ia lakukan saat ini di tanah misi. Setelah menutup komputer, spontan kata-kata ini keluar dari mulut saya: “Tuhan yang maha bijaksana, sungguh sempurna rancanganMu sehingga kami dapat memperoleh yang terbaik bagi kami masing-masing. Semoga kami selalu melakukan yang terbaik dalam panggilan kami masing-masing.” Lalu saya memohon berkat Allah yang mahakuasa bagi Sr. Natalia dan perutusannya di Solomon Islands. (P.Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org