RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Keseimbangan
 
Satu rekaman peristiwa dalam bentuk gambar yang selalu menampilkan Yohanes Bosco waktu kecil sebagai sahabat teman-temannya yang sebaya dan yang segenerasi ialah kebolehannya berjalan di atas tali terentang yang masing-masing ujungnya diikatkan ke pohon. Pasti orang segala lapisan yang menyaksikan itu sepakat untuk berseru: luar biasa! Anak muda yang berbakat, berani dan kuat.

Berdasar ilustrasi ini, satu pertanyaan dapat diarahkan kepada kita: apakah rahasianya sehingga anak kecil usia sekitar 10 tahun dapat bermain pada tingkat yang sangat beresiko itu? Satu jawaban yang dapat diterima kita semua ialah keseimbangan. Ia mendapatkan kemampuan itu tentu melalui latihan dan pembiasaan diri. Namun sebelum masuk dalam proses latihan ia mesti menyadari secara konseptual bahwa ada satu kualitas rohani yang istimewa di dalam dirinya yaitu roh keseimbangan. Ini merupakan karunia Allah pada diri setiap orang. Yang penting adalah orang perlu menyadari, memahami dan berusaha menerjemahkan itu dalam tindakan nyata. Di dalam roh keseimbangan itu terdapat nilai-nilai perhatian, keberanian, kekuatan, percaya diri dan kesungguhan.

Kita mengerti tentang keseimbangan. Bahkan kita mengalami sendiri dan tidak ada kecuali bagi setiap manusia. Saat sebagai bayi, seperti kita semua tahu, orang tua atau orang lain membimbing kita dalam latihan duduk atau berjalan. Di dalam pengalaman latihan itu roh keseimbangan kita sebagai anugerah Allah belum berfungsi sesungguhnya karena ia sangat bergantung pada sistem tubuh yang belum matang. Maka wajar kalau kondisi seperti ini dapat dikatakan sebagai keseimbangan yang rapuh. Suatu keseimbagan yang masih rapuh tidak boleh dipaksakan. Ia harus diberi ruang dan tempat untuk latihan secara terus-menerus dengan selalu menghargai proses pertumbuhan yang natural.

Karena setiap manusia dikaruniai roh keseimbangan yang dalam bahasa spiritualitas disebut keutamaan keseimbangan, setiap orang perlu menemukannya di dalam diri. Cara menemukan itu ialah dengan pengakuan secara tulus kelemahan atau kekurangan dan kelebihan atau kekuatan masing-masing. Setiap kali terjadi kekeliruan atau kesalahan orang mesti jelas menyadari bahwa di situ kekurangannya. Sebaliknya kalau datang keberhasilan atau pembaharuan orang jelas menyadarinya sebagai kekuatan atau kelebihannya. Dari pengakuan seperti ini, orang baru bisa mulai dengan latihan pembentukan keseimbangan dalam hidup pribadinya dan bersama dengan orang lain.

Keutamaan keseimbangan dapat dianggap sebagai strategi jalan tengah. Fungsinya sangat penting yaitu membuat kita untuk tidak bersikap ekstrem baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Konkretnya ialah dengan keseimbangan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang ada pada kita masing-masing dapat berfungsi dengan baik dan teratur. Contohnya, ketika Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Marta, penyambutan terhadap Yesus menampilkan dua sikap yang bertentangan (Lukas 10, 38-42). Padahal keseimbangan sikap kita kepada Tuhan mesti tampak dalam bagaimana membuat kerja dan doa sebagai sarana untuk hidup di dalam rahmat Tuhan. Singkatnya, di dalam segala aspek kehidupan ini, kita mesti menggunakan keutamaan keseimbangan sebagai pengatur cara hidup dan tingkah laku kita supaya kenyamanan dan kedamaian tercipta di dalam kehidupan kita.

Pola hidup yang sehat dan positif sangat memerlukan keutamaan keseimbangan. Dari bagaimana orang mengatur waktu untuk kegiatan-kegiatan hidupnya, mestinya terlihat bahwa baik kegiatan jasmani, rohani, sosial dan politik mendapatkan porsi waktu atau perhatian yang seimbang. Aturan main yang dipakai ialah dengan memberlakukan skala prioritas bagi setiap kegiatan hidup. Atau lebih konkrit ialah setiap orang mesti memiliki standar kesadaran dan tingkat kemampuan diri untuk berada dan bertindak pada saat, tempat dan kepentingan yang sesungguhnya. Atau dalam bahasa teknis pendidikan, dikatakan bahwa setiap orang perlu hidup dengan hak dan kewajibannya yang berlaku.

Dari segi pertumbuhan iman misalnya, keseimbangan menuntut supaya iman yang diakui dalam pikiran, rasa dan kehendak mendapatkan pengungkapannya di dalam tingkah laku hidup. Kita berdoa “Bapa Kami” dengan mendaraskan rumusan “seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami”, mestinya dapat terungkap dalam tindakan nyata mengampuni sesama di mana dan kapan pun kita hidup. Sering kita terlalu banyak bicara sehingga kita kurang mendengarkan. Padahal kita hanya memiliki satu mulut dibandingkan dengan dua telinga kita. Hal ini berpengaruh juga dalam doa-doa kita. Padalah doa-doa dengan mengaktifkan kemampuan mendengar justeru sangat berguna seperti Samuel, Musa, Yeremia di dalam Perjanjian Lama dan Bunda Maria, para rasul dalam Perjanjian Baru dan banyak orang kudus di dalam Gereja.

Marilah kita berlatih dan terus bertekun di dalam keseimbangan hidup. (P. Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org