RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Tri Tunggal Maha Kudus
 
Sepanjang sejarah usaha Gereja untuk mendalami sepenuhnya ajaran tentang Tritunggal Mahakudus belum memadai. Seluk-beluk ajaran ini dilakukan dengan begitu profesional oleh para teolog. Para pengkotbah dan pengajar berusaha untuk menguraikan sedemikian rupa supaya para pendengarnya merasa puas. Namun kenyataan yang tidak bisa dihindari ialah masih terlalu banyak orang yang bingung bahkan tidak mau tahu tentang ajaran dasar dalam iman Kristen ini. Lalu muncul anggapan umum di antara kita bahwa ajaran Tritunggal Mahakudus merupakan sebuah misteri. Kita cukup mengerti seadanya dan mengimani saja.

Peran para teolog, pengkotbah dan pengajar mungkin dapat diakui dengan tercapainya tugas mereka untuk membangun kemampuan mengerti dan berpikir tentang Tritunggal Suci. Tetapi pada akhirnya yang kita miliki hanya berupa tambahan pengetahuan kita mengenai ajaran atau dogmaTritunggal Mahakudus. Dorongan untuk cukup mengimani saja memang dapat memberikan keyakinan dan menguatkan hati untuk menerima. Tetapi rasa penasaran akan terus saja menuntut supaya Tritunggal Mahakudus itu harus menjadi sesuatu yang nyata dan dihidupi. Ajaran Tritunggal Mahakudus mesti memberikan makna bagi kehidupan iman Kristen kita setiap hari.

Dalam renungan ini saya ingin menguraikan tentang bagaimana ajaran Tritunggal Mahakudus itu kita ungkapkan dengan nyata melalui doa dan tindakan nyata kita setiap hari. Melalui doa, kita sungguh mengalami bahwa tiga pribadi Allah: Bapa, Putera dan Roh Kudus disebutkan dengan nama-Nya baik dalam ucapan mulut, gerakan tubuh (tangan) dan seruan dalam batin. Di dalam tindakan atau perbuatan, kita sungguh membuat peran kreatif dan pembaharuan tiga Pribadi Allah dapat kita alami secara pribadi maupun bersama orang lain.

Doa paling dasar dan penting yang menyebutkan tiga pribadi Allah ialah tanda salib. Di samping doa ini, masih ada banyak rumusan lain yang dipakai baik oleh Gereja sebagai lembaga iman maupun setiap orang beriman yang mengungkapkan doanya masing-masing. Kita tidak dapat menyebutkan semuanya pada kesempatan ini. Doa tanda salib dapat dianggap cukup untuk mewakili semua doa yang menggunakan rumusan Tritunggal Mahakudus.

Ada dua jenis tanda salib yaitu tanda salib besar dan tanda salib kecil. Tanda salib kecil selalu dilakukan memakai jempol dengan mendandakan bentuk salib misalnya pada dahi dan anggota tubuh tertentu atau benda-benda tertentu. Kita selalu menggunakan itu secara umum pada saat mulai mendengarkan pemakluman Bacaan Injil dalam perayaan Ekaristi. Maknanya ialah memberikan kekuatan dan menandakan kehadiran Tritunggal Mahkudus atas apa yang sedang dilakukan.

Tanda salib besar menjadi yang paling umum dilakukan. Kita mengawali dan mengakhiri doa dengan membuat tanda salib. Bahkan sekali membuat tanda salib juga sudah merupakan suatu doa yang baik. Paduan gerakan berbentuk salib dan pengucapan rumusan nama Tritunggal Maha kudus dibuat sedemikian serasi sehingga sungguh menggambarkan makna yang sangat mendalam bagi orang yang berdoa. Hanya orang-orang tertahbis seperti diakon dan imam, selain menandakan paduan tanda salib itu seperti yang dilakukan orang-orang pada umumnya, mereka selalu melakukan gerakan memberi berkat yang juga berbentuk tanda salib yang tidak menyentuh tubuhnya tetapi di depan tubuh dan wajahnya.

Dalam menandakan paduan tanda salib tersebut, yang mesti diperhatikan ialah kepantasannya sebagai suatu tindakan doa. Sering dalam melakukan itu tidak memenuhi syarat kepantasan sebagai doa sehingga terkesan hanya sebagai suatu tindakan semu tanpa makna. Banyak renungan yang diberikan oleh orang-orang kudus dan para spiritualis, diberikan suatu penjelasan yang cukup memadai seperti ini. Ketika mengucapkan “Dalam nama Bapa” bagian ujung jari-jari tangan kanan kita menyetuh dahi, lalu “dan Putera” tangan yang sama menyentuh perut atau bagian sebelah bawah dada, menyusul “dan Roh Kudus” tangan yang sama menyentuh bahu kiri dan kanan, dan “Amin” ketika kedua belah tangan kita katupkan di depan dada atau tapak tangan merapat pada dada.

Penandaan pada dahi memberi makna bahwa Bapa sebagai Allah adalah pencipta dan penguasa yang bertakhta di atas segala-galanya. Tempatnya harus sebagai “kepala” atau tertinggi yang mengendalikan segala sesuatu. Allah yang mahakuasa ini sangat baik hati sehingga ia rela menjadi manusia dalam bentuk Putera manusia yaitu Yesus Kristus. Untuk menjadi manusia Allah harus memasuki proses menjadi manusia dengan dikandung dalam rahim wanita. Dalam karya penebusanNya, Ia menerima penolakan dunia, lalu dihukum mati dan dimakamkan di dalam rahim bumi di mana di sana Ia bersatu dengan kematian tetapi lalu mengalahkan kematian. Simbol penandaan pada perut dan bahu kiri menunjukkan kenyataan ini. Tetapi dengan kuasa Roh Allah, Putera Manusia itu bangkit dan naik ke surga, lalu duduk di sisi kanan Allah. Penandaannya adalah pada bahu bagian kanan. Akhir dari paduan penandaan ini adalah seruan “Amin” sebagai pernyataan pengakuan atau mengiyakan.

Jadi sebuah “Tanda Salib” adalah sebuah doa yang sangat mendasar dan penting. Ia harus dilakukan dengan segala kepantasan dan penghayatan supaya kita merasa puas dan terpenuhi hasrat rohani kita. Doa ini merupakan ringkasan seluruh karya keselamatan Allah: dari penciptaan oleh Allah Bapa yang maha kuasa sampai keselamatan dan kehidupan kekal. Yang berarti bahwa doa Tanda Salib merupakan ringkasan dari seluruh kitab suci, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Dari Kitab Kejadian sampai kitab Wahyu.

Tritunggal Mahakudus selain terungkap dalam bentuk doa, ajarannya mesti menjadi sumber kekuatan dan semangat dalam hidup sehari-hari. Menurut kitab Amsal 8, 22-31, Allah Bapa menciptakan manusia dan segala sesuatu dengan daya kasihNya yang kreatif. Segalanya menjadi indah, teratur dan baik menurut standar kreatif kehendak Allah. Aspek ini yang sering disalahgunakan oleh manusia. Misalnya tubuh manusia yang diciptakan dalam kenyataan lahiriah-biologis sedemikian spesial atau unik, tetapi manusia berupaya mengubah seluruh atau sebagiannya menurut kepentingannya sepihak. Hal yang sama juga terjadi dengan alam, lingkungan, budaya dan iman. Maka penghayatan kita akan makna Allah Bapa dengan semangat yang benar ialah dengan mencintai dan melestarikan segala ciptaan yang sudah ada dan yang akan ada.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (5, 1-5) mengatakan bahwa kita dapat memiliki hidup sampai detik ini di mana ada kebenaran dan damai dengan Allah
karena didasarkan pada iman kita akan Yesus Kristus. Hanya melalui Yesus yang telah menebus kita, kita dapat mengalami kemuliaan bersama Allah di surga. Di dalam Dia saja kita juga dapat melihat dan mengalami suka cita meskipun berada di dalam penderitaan dan cobaan, karena Ia sendiri telah mengalahkan semuanya demi kita. Maka penghayatan kita akan makna Allah Putera ialah dengan cara mengikuti teladan Kristus seperti para rasul dan para kudus.

Selama kehidupan di dunia masih panjang dan memerlukan kesetiaan sebagai murid-murid Kristus, kita mesti mengandalkan Roh Kudus yang diutus oleh Kristus untuk mengajarkan kita dalam segala kebenaran (Yohanes 16, 12-15). Yesus memang telah mengajarkan segalanya yang kita temukan di dalam Kitab Suci. Tetapi Roh Kebenaran akan mengajarkan dan menunjukkan kita sepanjang sejarah segala konsekwensi dan pengaruh yang timbul karena tingkah laku manusia dalam menjawab panggilan Tuhan dan menghayati firmanNya. Maka penghayatan kita akan makna Allah Roh Kudus ialah dengan keterbukaan dan ketaatan kita terhadap bimbingan Roh Kudus. Kita memang telah berubah menjadi pribadi-pribadi manusia yang berkarakter ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk membuat hidup menjadi lebih bermartabat. Tetapi hal ini tidak mematikan peran Roh Kudus untuk membuat hidup kita menjadi sempurna.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Seperti pada permulaan, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin. (P.Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org