RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Orang Baik dan Orang Samaria Yang Baik
 
Siapa itu “orang yang baik?” Ia adalah orang yang biasanya mengaku dirinya tidak ber-agama, dan sering kelihatan sepertinya lebih “Katolik” daripada mereka yang mengaku sebagai Katolik! Walaupun dia mengaku sebagai ateis, dia kelihatan lebih perhatian terhadap sesama, dan sepertinya lebih jujur dan adil daripada mereka yang aktif di gereja.

“Orang yang baik” itu bisa saja sadar akan kelebihannya itu dan berkata, “Saya tidak perlu ke gereja koq untuk berbuat yang benar. Saya tahu banyak orang itu yang rajin ke gereja munafik semua!” Pernah ngga dengar orang omong begitu? Mungkin saja orang seperti itu ada juga di dalam keluarga kita sendiri! Bagaimana kita harus menanggapi mereka?

Kepada orang yang berkata, “Saya tidak perlu ke gereja untuk berbuat yang benar,” kita dapat menjawab, “Kami juga!” Sebab setiap manusia, tanpa terkecuali dan secara alami, sejak penciptaan, mempunyai suatu pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Musa mengatakan di dalam Bacaan Pertama, firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Perintah Allah itu ada tertulis di dalam hati manusia (Roma 2:15). Jadi bukan sesuatu yang mengagetkan bila “orang yang baik” itu tidak percaya akan Tuhan namun tahu berbuat yang benar. Seperti “orang yang baik,” kita juga tahu Hukum Tuhan yang ada di dalam hati kita dan setiap manusia. Namun kita tahu sesuatu hal lagi. Kita mengetahui bahwa kita sering gagal dan bahkan suka melawan Hukum Tuhan itu! Dan meskipun barangkali dia tidak mau langsung mengakuinya, si “orang yang baik” itu juga sering gagal. Seperti kita, barangkali dia juga pernah melakukan hal-hal yang bikin sesal dan malu.

Tapi kita datang ke Gereja bukan karena kita mau merayakan kebaikan kita, melainkan karena kebaikan Seorang yang sungguh baik! Hari ini kita mendengarkan tentang seorang tokoh di dalam perumpamaan Yesus yang memenuhi Perintah Cinta Kasih secara luar biasa. Dia disebut “Orang Samaria yang Baik.” Siapa dia sebenarnya? Orang-orang Kristiani yang pertama menganggap Orang Samaria yang Baik itu adalah Yesus Sendiri. Dia memperlihatkan Belas Kasih yang sempurna.

Kitalah orang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Penyamun-penyamun itu adalah iblis dan godaan-godaan di dunia ini. Yesus – Orang Samaria yang Baik – memperhatikan kita. Dia membalut luka-luka kita dan membawa kita ke tempat penginapan, Gereja-Nya. Dia memberi “dua dinar” kepada pemilik penginapan, yakni dua Perintah Utama: Cinta Kasih kepada Allah dan kepada sesama.

Siapa di antara kita yang tidak mempunyai luka sama sekali? Kita datang ke Gereja bukan untuk membanggakan betapa “baik”-nya kita, melainkan agar supaya luka-luka kita itu dibalut dan diobati oleh Orang Samaria yang Baik. Kita butuh disembuhkan dan dipulihkan. Hanya dengan demikian – dan hanya pada saat itulah – kita dapat berbagi belas kasih yang mendalam. Oleh karena itu setelah kita dijamah, Yesus berkata juga kepada kita, Pergilah, dan perbuatlah demikian!(Romo Noel SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org