RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Uang Haram
 
Menjelang libur Lebaran tahun ini Cipto pulang ke kampungnya dan tidak kembali lagi bekerja di kota. Ia bukan seorang umat Muslim yang ikut mudik ramai-ramai, tetapi ia adalah seorang umat Katolik dan mantan koster di salah satu paroki wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Bagi Pastor Paroki dan lingkaran dewan harian, tindakan Cipto ini merupakan kelanjutan dari pemberhentiannya secara tidak hormat dari pekerjaannnya di Gereja. Bagi dia sendiri, meski sebuah keputusan dan tindakan berat, ia harus melangkah dengan kepala tegak untuk memulai dari nol kehidupan di kampung halamannya yang sudah ditinggalkan tiga puluh tahuh lalu.

Vonis yang dijatuhkan pada Cipto telak. Keluarganya harus menanggung malu kepada siapa saja di Paroki yang mengetahui hal ihwal permasalahan yang dihadapinya. Ia dipecat karena ketahuan menggelapkan uang milik Gereja dalam jumlah besar. Sudah lebih dari 10 tahun bekerja sebagai koster, ia selalu ikut dalam perhitungan kolekte setiap selesai Misa Kudus. Setiap perhitungan, ada persentase yang disisihkan untuk nanti dibagikan bertiga dengan dua rekan karyawan lain. Operasi itu berlangsung terselubung sehingga tidak mudah diketahui orang lain.

Para Pastor dan anggota dewan tidak punya kecurigaan apa-apa karena mereka tahu bahwa Cipto seorang yang jujur dan pekerja keras. Mereka tidak menyadari bahwa dengan penggelapan itu ia dapat membiayai anak-anaknya bersekolah dan berhasil membangun sebuah rumah permanen di kampungnya. Suatu saat, ketika perbuatan tercela ini diketahui, mereka bertiga langsung dihentikan dari pekerjaannya. Cipto tidak bisa menanggung malu selain membawa keluarganya pulang kampung.

Lebih dari lima puluh persen hidup Cipto dan keluarganya selama sebagai karyawan Gereja ditopang oleh uang haram. Uang itu bukan hasil keringatnya tetapi curian. Uang itu dikumpulkan dari persembahan diri setiap umat yang menghadiri perayaan suci Ekaristi untuk digunakan atas nama Tuhan demi kebaikan hidup umatNya. Sebagai balasan persembahan itu, setiap orang menerima berkat dan pengudusan supaya mereka kembali ke tempat masing-masing sebagai orang-orang yang dirahmati Roh Kudus. Oleh karena itu uang tersebut harus diharamkan, karena maksud dipersembahkan dan akan dimanfaatkannya adalah suci: demi dan dalam nama Tuhan.

Tetapi kuasa kejahatan telah menaklukkan satu dua orang di dalam Gereja sehingga mereka tidak lagi mengharamkan atau menganggap suci uang itu. Mereka mengambil apa yang sudah menjadi milik Tuhan, milik Gereja. Dosa mereka sama dengan Adam dan Hawa yang melanggar batas kewenangan Tuhan. Mereka dan banyak aktivis lain dalam aneka kegiatan Gereja sepertinya menganggap bahwa mencuri di Gereja tidak perlu dianggap berbahaya. Belum pernah Gereja Katolik memperkarakan seorang umatNya di pengadilan dan memasukkannya ke penjara kalau ketahuan melakukan pencurian. Umat Allah terdiri dari orang-orang yang mengerti dan baik hati. Tuhan Allah itu pengampun maka umatNya juga demikian. Makan dan hidup dengan uang haram justeru enak, meskipun dalam kesembunyian mengakui sebagai dosa. Paling-paling akan diselesaikan dengan Sakramen Pengakuan Dosa.

Korupsi di dalam Gereja terjadi dan terus terjadi dengan berbagai cara. Uang pasti menjadi objek utama sehingga menggoda untuk dicaplokkan. Memang benar ungkapan “Money is honey”, sehingga manusia tergiur dan tergila-gila. Kondisi di dalam Gereja yang demikian tidak jauh berbeda dengan di masyarakat dan dunia kerja. Korupsi sepertinya tidak terbendung. Sekali lagi, karena ada uang maka ada korupsi yang tanpa henti. Paroki atau institusi keagamaan apa pun yang memiliki sumber daya memadai dan berinvestasi besar punya potensi besar untuk terjadi korupsi. Pelayanan-pelayanan selalu menjadi cara-cara paling nyaman dan aman untuk bermain gelap dengan uang.

Ada satu Paroki pedalaman tidak pernah mengalami korupsi karena memang tidak ada uang. Kolekte setiap hari Minggu kurang dari satu juta yang terkumpul dari empat stasi. Seandainya koster atau aktivis Paroki ingin korupsi, dari mana uangnya untuk kesejahteraan para pastor dan sedikit untuk membeli hosti dan anggur! Hal demikian mendorong umat untuk bekerja “susu tante besar”= sumbangan sukarela tanpa tekanan beserta angka rupiah! Umat rela mengorbankan tenaga, waktu, kemampuan dan bahkan uang seadanya. Inilah yang disebut pelayanan sejati bagi Gereja.

Perilaku korupsi di dalam Gereja tidak jauh berbeda dengan di dalam masyarakat. Uang atau harta haram mesti dipahami juga dalam arti kepemilikan atas sesuatu yang menjadi hak sesorang, yang kalau tidak dimiliki atau dicuri, orang tersebut tidak bisa bertahan hidup. Yang sering terjadi dalam kehidupan misalnya tindakan-tindakan memperdayai orang kecil dan miskin. Mereka bagaikan sudah jatuh tertimpah tangga. Pajak-pajak yang diwajibkan pada mereka ternyata dikorupsi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kolekte yang mereka persembahkan dari kekurangannya, iuran yang diwajibkan dan aneka bentuk sumbangan yang mereka relakan, ternyata disalahgunakan. Di dalam Gereja, uang “Dana Papa” yang jumlahnya cukup banyak bisa berpotensi disalahgunakan dengan menutup mata.

Banyak kali juga terjadi pengumpulan sejumlah uang tertentu atas nama orang papa-miskin namun akhirnya penggunaannya bukan bagi mereka. Orang-orang miskin bukannya dibela atau diberdayakan hidupnya tetapi malah diperdayai sehingga menjadi lebih buruk nasibnya. Penyebab utamanya ialah karena orang gila uang, dan uang ini bukan sebagai hak yang pantas dimiliki tetapi uang haram yang mestinya dianggap suci, tidak boleh disalahgunakan. Orang-orang miskin-papa itu adalah kekasih Allah maka mereka merupakan milik haram Allah. Mereka tidak boleh diperdayai dan dihancurkan.

Hal-hal seperti ini menjadi alasan nabi Amos yang sekitar tahun 760 sebelum Yesus memperjuangkan keadilan bagi orang-orang papa-miskin yang dibuat semakin tidak berdaya hidupnya (Amos 8, 4-7). Ia menyerukan perintah dari Allah supaya pihak penindas yang sewenang-sewenang segera bertobat. Jika tidak murka Allah datang sebagai pengadil yang menuntut keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Yesus memberikan suatu perumpamaan yang bagus mengenai bendahara yang tidak jujur, yang menyalagunakan harta milik tuannya. Bahkan ia bertindak korup dengan memperdayai para pegawai tuannya supaya dapat menyelamatkan dirinya dari tuduhan berdosa. Ia begitu nekat melanggar batas-batas yang sebenarnya haram, yang bukan merupakan haknya (Lukas 16, 1-13).

Yang penting di sini ialah bahwa, keadilan menuntut supaya apa yang dianggap mulia, suci dan haram diberi tempat dan penghargaan yang semestinya. Uang selalu menjadi alasan ulung bagi siapa saja yang tergoda untuk berdosa, demikian menurut Kitab Suci. Memulai dari sikap yang benar dan tepat terhadap uang akan sangat membantu untuk menciptakan keadilan dan kedamaian dalam hidup bersama. (P.Peter Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org