RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Tiga Wajah
 
Memasuki minggu kedua masa Adven ini, bacaan-bacaan liturgi hari Minggu kedua menghadirkan tiga wajah Adven bagi kita. Kitab nabi Yesaya bagian kedua merupakan sebuah pesan yang ditujukan kepada orang-orang yang mengalami pembuangan. Kota Yerusalem yang agung hanyalah kenangan. Keadaan mereka sekarang ialah Babel, kegelapan hidup sebagai orang-orang buangan. Orang-orang Israel ini sudah tipis sekali harapannya dan godaan untuk lari dari Allah sangat besar. Mereka telah melanggar perjanjian dengan Allah dan merasa seperti berada begitu jauh dariNya. Rekonsiliasi dan pembaharuan itu sekedar sebagai mimpi yang mungkin tak akan menjadi kenyataan.

Penulis surat kedua Petrus mengalami suatu persoalan teologis yang serius. Yesus diyakini oleh orang-orang percaya bahwa Ia tidak segera datang lagi seperti yang diharapkan. Ini dimengerti bahwa Allah telah menunda pembangunan kerajaanNya. Ada sebagian orang yang berpikir bahwa Yesus tidak tertarik lagi dengan umatNya, atau lebih jelek, Dia sebenarnya bukan lagi seorang Mesias. Keterlambatan Allah ditafsirkan sebagai sebuah kebohongan. Yesus sebenarnya tidak setia terhadap harapan-harapan manusia.

Di dalam Injil kita bertemu dengan seorang figur penting dalam masa Adven: Yohanes Pembaptis. Yohanes ditugaskan dengan sebuah pekerjaan berat: suara yang berseru-seru di padang gurun untuk menyiapkan jalan, membersihkan dan memuluskan jalan bagi datangnya Mesias. Untuk melakukan itu ia harus menyerukan semua orang untuk bertobat dan membaharui diri supaya memiliki hati yang bersih untuk berjumpa dengan Mesias. Kita semua tahu betapa populer pesan itu. Kita juga tahu apa yang biasanya terjadi pada orang-orang yang membawa tantangan untuk perubahan.

Kita dalam minggu ini bertemu dengan tiga wajah “asing” yaitu seorang penyair, penulis dan laki-laki dengan pakaian tidak sopan yang bersama-sama berbicara dengan kita. Isi pembicaraan mereka sarat makna, penuh nilai dan bermuatan pesan surgawi. Karena masalah tentang pembuangan, Allah yang tidak ada dan tuntutan untuk perubahan bukan sesuatu yang tidak relevan. Tema-tema ini relevan pada setiap masa dan khususnya saat ini. Dan karena Adven meminta kita untuk menyiapkan kelahiran Yesus, saat ini sebenarnya ada tiga wajah yang menyambut dan berjalan bersama kita: saat untuk kembali ke rumah, kedekatan dengan Allah dan pertobatan.

Terkadang kita mengalami suatu kenyataan begitu jauh dari Allah. Kita menyadari dosa-dosa dan kekurangan kita. Kita tahu betul betapa jauhnya kita telah berjalan untuk mencari makna dan kebenaran. Kita gampang merasa bahwa Allah telah meninggalkan kita karena pada kenyataannya kita telah berpaling dariNya. Namun di tengah semua bentuk pembuangan diri kita ini, penyair dalam Kitab Yesaya berseru: “Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikianlah firman Allahmu. Berbicaralah dengan lembut ... dosanya dihapuskan” (Yes 40, 1-2). Allah kita ialah bukan Allah pendendam atau pemarah, tetapi pengasih. Allah menghendaki kita kembali kepadaNya. Karena dengan berada di dalam Dia kita mengalami kegembiraan dan damai melampui segalanya. Allah kita adalah gembala dengan kasih yang begitu besar, meninggalkan 99 domba lain untuk mencari dan menemukan satu yang tersesat. Ia hendak menyembuhkan dan membuat utuh kembali perpecahan di dalam kita akibat dosa.

Allah kita penuh dengan belas kasih dan pengampunan sehingga kita dapat dibaharui. Kita dapat dengan jujur berhadapan dengan kedosaan kita dan tahu bahwa kita diterima. Allah kita datang dalam rupa seorang bayi sehingga Ia dapat menguatkan cinta kita dan menghilangkan ketakutan kita. Allah bisa saja datang dengan keagunganNya yang mahabesar. Tapi hal itu hanya menuntut ketaatan kita bukan cinta kita. Dan itulah yang dikehendaki oleh Allah: cinta kita dengan bebas kembali kepada cintaNya yang diberikan gratis. Kiranya kita membiarkan diri kita dilihat oleh Allah, dan tahu bahwa di dalam cintaNya semua diterima dan disembuhkan.

Akhirnya, dan inilah yang paling sulit, kita mesti menunggu dengan sabar dan dalam pengharapan akan kedatangan Tuhan. Allah tidak menyediakan jawaban yang cepat dan mudah. Sebaliknya, Allah berkenan dengan kesabaran dan kemurahan hati kita karena Ia ingin semua orang dikumpulkan dalam perjamuanNya yang abadi. Sekarang di dunia ini kita berjuang melawan dosa dan kematian. Namun Dia yang mengatasi keduanya akan datang untuk menunjukkan kita jalannya. Dan Ia akan membangun sebuah langit dan bumi yang baru ... di mana keadilan Allah berkuasa. Apakah yang harus kita perbuat hingga saat kedatangan itu? Surat kedua St. Petrus menjawabnya begini: “... sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tidak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia” (2 Petrus 3, 14) (P.Peter Tukan,SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org