Ada sepasang suami isteri di kampung yang hidupnya sangat rukun. Mereka tidak pernah kelihatan bertengkar atau saling marah meskipun mereka sudah 50 tahun hidup berkeluarga. Sang isteri sangat penurut: apa pun yang diminta atau disuruh oleh suami selalu dilakukan tanpa ada bantahan atau kompromi. Sedangkan suami dikenal sebagai seorang penyabar.
Tentu kehidupan suami isteri seperti ini sangat menarik dan dapat menjadi panutan banyak orang. Apakah rahasianya? Seorang teman si suami yang sama-sama mengalami perjuangan semasa penjajahan dulu bercerita dan memberi alasan mengapa isteri dari temannya sangat taat dan senantiasa menurut. Pada tahun 1946 pada saat suami isteri ini hendak mengungsi ke desa lain, mereka memakai delman milik mereka, yang pada waktu itu menjadi satu kekayaan sangat berharga yang dimiliki satu keluarga tertentu. Baru beberapa kilometer perjalanan, kuda delman itu jatuh, mungkin karena kecapean dan memang barang bawaan sangat melebihi kekuatan kuda itu. Bapak itu bergegas turun dan membantu kudanya untuk berdiri sambil berseru ”Satu!“
Kuda itu berjalan lagi namun beberapa waktu berselang ia jatuh lagi. Bapak itu segera turun dan membantu kudanya berdiri kembali sambil mengatakan ”Dua!“ Sang isteri mulai merasa heran, tapi ia menahan saja keinginan untuk bertanya pada suami maksud hitungan terhadap kuda yang jatuh. Tapi ketika perjalanan dilanjutkan sampai beberapa kilometer, kuda itu jatuh lagi. Bapak itu tampak emosi, ia turun segera dan langsung berseru ”Tiga!“, lalu ia dengan cepat kilat mengambil pistol di samping celananya dan ”Dor, dor, dor...“ maka kuda itu langsung mati di tempat.
Melihat itu, sang isteri langsung marah-marah sambil memaki suaminya karena sudah menembak mati kuda satu-satunya milik mereka. Akibatnya mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan. Isteri yang belum habis marahnya, suami langsung menyela lalu berkata: ”Satu!!“ Sampai sekarang suami isteri itu hidup rukun dan damai ...
Perasaan kita semua dalam minggu ke-4 Adven ini hendaknya berupa rasa damai dalam pengharapan yang tinggi. Namun sebagai orang yang beriman, damai hendaknya tidak boleh tercipta oleh ketakutan akan ancaman bahaya atau absennya konflik dan perselisihan dalam hidup bersama. Gambaran suami isteri tadi sangatlah tidak ideal untuk sebuah perdamaian yang dibangun karena mereka selalu dibayangi ketakutan dan konflik yang bakal datang kalau mereka memang seharusnya menjadi diri mereka sediri. Merayakan Natal untuk mengalami kahadiran Tuhan tidak bisa dengan suasana batin dan kehidupan bersama seperti ini.
Damai yang sejati adalah dari Tuhan. Ada dua cara menerima damai Tuhan: cara yang ditunjukkan oleh Daud dan cara yang dilakukan oleh Maria, perawan yang dipilih untuk menjadi Bunda Yesus. Bagi Daud, dirinya dan apa saja yang telah ia capai dalam karirnya bukan sebagai karunia tetapi sesuatu yang harus ia penuhi kepada Tuhan. Allah menuntut ’bayaran’ darinya atas apa yang telah diberikan kepadanya. Maka Daud dituntut untuk membangun Rumah Yahwe. Kesombongannya membuat Tuhan harus mengingatkannya akan masa mudanya yang sangat sederhana. Segala pencapaian yang pernah manusia miliki tidak pernah membahwa damai yang sejati dan abadi. Kita haru berusaha untuk memperoleh damai yang sejati itu, namun pencapaiannya mesti hanya pada karya Allah. Andaikata kita hanya percaya pada karya tangan dan kemampuan kita untuk membangun perdamaian, pasti tidak ada ruang bagi damai dari Tuhan yang menjadi karunia pembaharu bagi kita.
Bagi Maria, ia tidak peduli untuk menarik perhatian Allah atau membayar segala sesuatu yang telah Tuhan perbuat kepadanya. Maria tahu bagaimana menerima karunia: ”Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanMu itu.“ Maria tidak tertarik untuk memperbesar karirnya atau merencanakan sesuatu yang besar. Tuhan Allah-lah yang akan membuat sesuatu yang besar padanya sekaligus membuatnya hebat. Ia tidak membangun Rumah Allah, tapi Tuhan yang akan menjadikannya rumah bagi Firman yang menjadi manusia. Jadi Maria dipenuhi rahmat dan dalam damai karena ia sungguh percaya bahwa Tuhan akan melakukan semua yang telah dikatakanNya. Maria dalam suasana damai karena ia membiarkan Allah bekerja melalui dirinya.
Kiranya warta gembira bagi kita ialah kita relakan diri kita untuk Allah dapat bekerja melalui kita, maka ada damai di dalam diri kita, damai yang harus di hati kita dalam menyambut hari Natal ini. Damai itu tidak akan diambil oleh kekuatan apa pun di dunia ini. (P.Peter Tukan, SDB) |