Apakah ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin bagi Allah? Tidak ada. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa yang mustahil bagi manusia menjadi mungkin bagi Allah dalam segala sesuatu (bdk Mt 19,26). Kalau ini dikaitkan dengan kehidupan manusia berarti pribadi dan kehidupan manusia itu menjadi mungkin karena Allah yang membuatnya. Tidak ada seorang manusia yang menjadi tidak mungkin bagi Tuhan.
Ada cerita tentang seorang guru yang masuk ke ruang kelas untuk memulai pengajarannya. Setelah menguasai kelas, ia bertanya kepada murid-muridnya tentang menjadi apakah mereka masing-masing di masa depan. Satu per satu mengungkapkan sesuai yang diberitahukan orang tuanya atau seperti yang diinginkan sendiri. Namun seorang anak laki-laki yang duduk di belakang mengangkat tangan lalu menjawab: “Saya ingin menjadi mungkin”. Semua di dalam kelas tersentak diam seakan tidak percaya ada jawaban seperti itu. Lalu guru mendekati anak itu dan menanyakan apa artinya “menjadi mungkin”. Anak itu berkata: “Saya ingin menjadi mungkin karena di rumah papa dan mama selalu melihat dan menganggap saya tidak mungkin.”
Mengikuti Yesus yang memberikan kemungkinan bagi anak-anak untuk datang kepadaNya, maka menggagalkan tekanan “tidak mungkin” bagi mereka untuk bertemu denganNya (Mrk 10,14), Don Bosco juga menghadirkan sebuah pedagogi kemanusiaan dengan membuat orang muda zamannya menjadi angkatan atau generasi yang “mungkin’. Keluarga, Gereja dan masyarakat nampaknya sudah mempunyai vonis pada anak-anak dan orang muda bahwa mereka “tidak mungkin” menjadi lebih baik. Mereka hanyalah jenis manusia yang mengganggu kenyamanan hidup pada umumnya, karena mereka tidak bekerja dan terlibatnya mereka dalam aneka tindakan kejahatan. Sebagian mereka harus menjalani hukuman di penjara.
Don Bosco membuka peluang seluas-luasnya supaya orang muda yang “tidak mungkin” itu semakin menemukan dirinya bahwa mereka sangat dikasihi oleh Tuhan. Supaya mereka menjadi tahu bahwa Tuhan masih percaya kepada mereka. Supaya mereka juga tahu bahwa Don Bosco mencintai dan percaya kepada mereka. Supaya mereka juga menyadari bahwa ada masa depan yang cerah sedang menantikan mereka.
Mengubah yang tidak mungkin atau sulit dan berat menjadi mungkin membutuhkan iman, kerja keras dan semangat juang tinggi. Iman kepada Tuhan membuat kita selalu berpaling kepada Tuhan saat kita mengakui bahwa kemampuan kita ada batasnya. Di dalam doa, persembahan dan pujian, kita memohon penyelenggaraanNya supaya Ia memberikan yang dikehendakiNya untuk melengkapi yang masih kurang pada kita. Ini adalah ketergantungan dan kerendahan hati. Jadi iman memang harus sejalan dengan kerendahan hati.
Kerja keras mencirikan kodrat kita manusia karena merupakan pelaksanaan tugas yang diberikan oleh Allah sejak manusia pertama harus menghidupi diri mereka. Kita mesti bekerja supaya bisa menyambung hidup. Kerja yang layak adalah panggilan Tuhan untuk bekerja sama denganNya demi kebaikan kita dan kemuliaanNya. Tetapi kerja yang tidak pantas bukan merupakan panggilan ilahi dan pasti menjadi kutukan bagi diri sendiri. Kerja keras untuk menciptakan “mungkin” dari yang “tidak mungkin” merupakan sesuatu yang mulia, rencana Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja dan terus bekerja. Dan Ia menghendaki kalau kita ingin menjadi sempurna, bekerja adalah jalannya.
Semangat juang adalah penjamin temperatur keadaan iman dan kerja keras kita. Kita pasti memiliki kemampuan untuk beriman dan bekerja demi kehidupan yang layak di hadapan Tuhan dan masyarakat. Namun kalau semangat itu kendor, iman dan kemampuan untuk bekerja menjadi tidak efektif. Maka kalau ada orang-orang yang mengalami kekeringan iman dan malas untuk bekerja, jalan keluarnya ialah membangun kembali semangat mereka supaya kembali segar dan dinamis.
Ada seorang anak ingin bermain dengan kura-kura dalam kolam di samping rumahnya. Mula-mula ia ingin menyentuh dan mengambil dengan tangannya, tapi begitu menyentuh kepala kura-kura menghilang, masuk ke dalam tubuhnya. Lalu anak itu memakai kayu hendak mengambil kura-kura. Tetapi semakin ia berusaha kura-kura menyembunyikan kepalanya. Bapaknya yang melihat itu berkata: “Kura-kura akan mati kalau disentuh dengan cara demikian.” Tapi anak itu tetap tidak mengerti bagaimana caranya supaya kura-kura menunjukkan mukanya. Kemudian bapanya mengambil kura-kura itu, mendekatinya dengan kompor api dan membiarkan itu beberapa lama. Karena kepanasan kura-kura itu mulai mengeluarkan kepala dan bergerak sesukanya.
Banyak orang muda dan juga orang dewasa perlu sekali dibakar semangatnya dan diperkaya dengan kasih serta perhatian yang pantas, maka mereka akan menjadi lebih bersemangat dalam hidup. Don Bosco memang melakukan seperti itu. Kita juga dapat melakukan seperti itu. (P.Peter SDB) |