Santo
Christophorus
St.
Markus | St.
Tarsisius | St.
Mikael | St.
Kanisius
Pelindung Lingkungan
Santo Kanisius
Santo
Petrus Kanisius, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja. Ia dianugerahi
karisma yang besar, terutama pada pandangannya yang jauh ke
depan, menyingkapkan kebutuhan zaman dan Gereja sepanjang
masa, terutama di bidang pendidikan dan penerbitan. Pesta
: 21 Desember
Lahir di Nijmegen, Belanda pada tanggal 8 Mei 1521. Pada
waktu itu Nijmegen merupakan bagian dari Keuskupan Agung Koln
yang masih di bawah pengawasan Jerman. Karena kecerdasan otaknya
maka sejak umur 15 tahun ia belajar di Universitas Koln. Pada
umur 19 tahun, ia masuk Serikat Yesus. Semasa hidupnya ia
menyaksikan pergolakan hebat di dalam Gereja, yaitu perpecahan
di antara umat Kristen yang disebabkan Protestantisme.
Kesucian dan kariernya sangat kuat dipengaruhi oleh Petrus
Faber dan Ignasius Loyola. Ia bertemu dengan Petrus Faber
dalam sebuah retret. Sedangkan pengaruh dari Ignasius Loyola
didapatkan karena selama 6 bulan di Roma dia tinggal bersama
Ignasius.
Ia ikut ambil bagian dalam mendirikan rumah biara Jesuit
di Koln, tempat ia menjalani masa novisiatnya.
Pada tahun 1546 ia ditahbiskan menjadi imam dan dalam waktu
singkat ia segera terkenal sebagai seorang pengkotbah ulung.
Pada waktu Konsili Trente, ia terpilih sebagai peserta dari
kalangan ahli teologi.
Pada tahun 1548 ia mengajar retorika di kolese Jesuit di Messina;
dari Messina ia pindah ke Wina untuk tugas yang sama. Lewat
kotbah dan pengajaran agamanya yang mengagumkan, ia menanamkan
pengaruhnya yang sangat besar di semua kalangan, sehingga
membuat iri pihak protestan. Ia mengatakan bahwa cara terbaik
untuk menyebarkan iman ialah dengan doa dan kerja keras, bukan
dengan mencemooh agama lain.
Tiga kali ia ditawari jabatan uskup oleh raja, tetapi ia
menolaknya. Baru pada tahun 1557 ia ditunjuk oleh Ignasius
menjadi Administrator pada takhta keuskupan yang sedang kosong.
Di masa itu ia banyak menulis buku-buku pelajaran agama (katekismus),
mendirikan sekolah dasar, kolose dan seminari. Dengan tekun
ia rajin mengajar, berkotbah dan menguatkan iman para rohaniwan
yang mengalami krisis dalam menghayati panggilannya.
Ia mempunyai keyakinan bahwa berkarya di tanah air sendiri
tidak kalah pentingnya dengan bertugas sebagai misionaris
di tanah asing. Pandangannya jauh ke depan; maka disamping
pendidikan ia juga memelopori karya penerbitan buku-buku,
karena ia menyadari bahwa buku dan majalah sangat besar pengaruhnya.
Ia meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 1597 dalam usia
78 tahun ketika sedang bertugas di Fribourg, Swiss.
Oleh Paus Pius XI (1922-1939), ia digelari ‘Santo’
dan ‘Pujangga Gereja’, dan dianggap sebagai Rasul
Jerman Kedua. ***
|