Santo
Servasius
St.
Aloysius Gonzaga
| St.
Laurentius | St.
Leonardus | St.
Sebastianus
Pelindung Lingkungan
Santo Aloysius Gonzaga
Nama : Santo Aloysius Gonzaga (1568-1591), Biarawan dan Pengaku
Iman
Pesta : 21 Juni
Lambang : Seorang frater dengan bunga lili [bakung]
Aloysius
Gonzaga, biasa dipanggil Luigi, lahir di Castiglione delle
Stiviert, Mantua, Italia Utara pada tanggal 9 Maret 1568.
Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan yang berkuasa dan
kaya raya. Ketika berumur 9 tahun, putera tertua dari Marchese
Ferrante ini mengikuti pendidikan di istana keluarga Fransesco
de Medici di Florence.
Selama berada di istana de Medici, ia mulai menyadari panggilan
ilahi dalam dirinya. Ia tahu apa yang nanti akan terjadi atas
dirinya. Hidup a-susila yang mewarnai cara hidup orang-orang
istana sangat memuakkan hatinya. Ia merasa terancam oleh cara
hidup istana itu. Untuk melindungi dirinya dari bahaya-bahaya
itu, ia terus berdoa memohon perlindungan Tuhan. Dalam situasi
ini ia dengan berani mengikrarkan kaul kemurnian hidup dan
berjanji akan memelihara kesucian dirinya. Kaul ini diikrarkan-
nya selagi berusia 10 tahun (1578). Dikemudian hari, ia sendiri
mengatakan bahwa ia telah memutuskan menjalani kehidupan religius
pada umur 7 tahun. Pada tahun 1580, ia menerima Komuni Kudus
Pertama dari Uskup Agung Milan, Karolus Borromeus.
Pada tahun 1581, ia bersama Maria dari Austria pergi ke Spanyol.
Ia tinggal selama tiga tahun di istana Yakobus, putera raja
Philip II di Madrid. Di sinilah ia memutuskan untuk masuk
Serikat Jesus. Untuk itu ia segera kembali ke Italia pada
tahun 1584 untuk menyampaikan niatnya kepada orang tuanya.
Ayahnya menolak dengan tegas keinginan anaknya. Aloysius diharuskan
tetap mempertahankan gelar kebangsawanan dan harta benda warisannya.
Segera ia mengalihkan semua haknya dan harta warisannya kepada
saudaranya yang lebih muda. Ayahnya tak berdaya menghadapi
anaknya ini. Akhirnya Aloysius masuk novisiat Serikat Jesus
di biara Santo Andreas di Roma. Ia diterima oleh Pater General
Serikat Jesus, Claudius Acquaviva. Setelah menyelesaikan tahun
novisiatnya, ia diperkenankan mengucapkan kaul pertama.
Prestasinya yang tinggi dalam pelajaran ilmu-ilmu kemanusiaan
dan ilmu pengetahuan lainnya memperkenankan dia memulai studi
teologi di Kolese Roma. Ia ternyata sangat mampu mengikuti
kuliah teologi. Kawan-kawannya sangat menyegani dia karena
belas kasihannya, kerendahan hatinya dan ketaatannya. Kesalehan
hidupnya dan ketabahannya dalam menghayati hidup membiara
membuat dia menjadi tokoh teladan bagi kawan-kawannya.
Pada usia 23 tahun, ketika terlibat aktif dalam perawatan
orang-orang sakit korban wabah pes di Roma, ia sendiri akhirnya
terserang penyakit berbahaya itu. Pada tanggal 21 Juni 1591,
hari terakhir Oktaf Pesta Tubuh dan Darah Kristus. ia meninggal
setelah tiga bulan menderita. Ia dikuburkan di Annunziata
dekat Kolese Roma. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Gereja
Santo Ignatius. ***
|