Pastor Andre Delimarta, SDB

Terakhir diperbaharui: 20 June 2020

“Saya Mau Menjadi Pastor Salesian!”

Dia yang memanggilmu akan memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam dirimu apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. (ibrani 13:21)

Setelah lebih dari 20 tahun melayani di komunitas Salesian Don Bosco, mulai dari magister novis, rektor dan juga sebagai delegatus, Pastor Andre Delimarta, SDB ditugaskan menjadi Pastor Paroki Danau Sunter - Gereja Santo Yohanes Bosco menggantikan Pastor Boedi, SDB.

PADS, nama panggilan Pastor Andre, SDB, mengucapkan kaul pertamanya sebagai seorang SDB di Fatumaca, Timor Leste pada tahun 1989. PADS kemudian belajar filsafat di Canlubang, Filipina, menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di Timor Leste, belajar teologi di Manila, Filipina, dan akhirnya ditahbiskan sebagai salah satu Salesian pertama di Indonesia di Gereja Santo Lukas, Sunter pada tanggal 15 April 1997.

Sebagai pastor muda, PADS ditugaskan menjadi katekis dan prefek studi di Kolese Fatumaca, Timor Leste; sebelum melanjutkan studinya di Roma, Italia. Setelah kembali dari Roma, PADS menjadi magister novis dan kemudian menjadi rektor di Komunitas SDB Tigaraksa dan Sumba. PADS juga ditunjuk sebagai delegatus SDB Indonesia untuk periode Desember 2013 sampai dengan Juni 2015.

Panggilan

Salesian Don Bosco, melalui Pastor Jose Carbonell, SDB, mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1985. Setahun kemudian, ketika PADS duduk di kelas 2 SMA, dia mulai mengenal SDB setelah ibunya mengajaknya mengikuti Misa harian di kapel Don Bosco. Perkenalannya dengan Pastor Carbonell dimulai sejak saat itu. PADS sering bermain dan menghabiskan waktu di biara, bergaul dan bermain bersama dengan frater-frater SDB dari Timor Leste yang sedang studi filsafat di Driyarkara.

PADS menerima undangan Pastor Carbonell, SDB untuk tinggal di biara ketika kelas 3 SMA. Kemudian PADS mulai menerima pembinaan dengan menerjemahkan slide-slide cerita Don Bosco, memeriksa draft konstitusi serikat Salesian Don Bosco, dan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada misionaris dari Filipina yang akan berkarya di Timor Leste. Setamat SMA, PADS resmi masuk novisiat di Timor Leste pada tahun 1988.

“Lucu sekali kalau mengingat hal itu”, ungkap PADS ketika menceritakan masa-masa awal Novisiatnya. Seluruh pelajaran diberikan dalam Bahasa Portugis yang PADS tidak mengerti sama sekali. Bersama 11 teman dari Timor Leste, komunikasi dengan Pastor Luigi de Pretto, SDB—Magister pada waktu itu—sangat sulit karena perbedaan bahasa. Tiga bulan kemudian, Pastor Luigi de Pretto, SDB digantikan oleh Pastor Andres Calleja, SDB. Sebelum Pastor Andres datang dari liburannya di Spanyol selama tiga bulan, Pastor Alfonso Maria Nacher, SDB menggantikan sebagai Magister. Maka ketika selesai menjalani tahun Novisiat, bisa dibilang PADS memiliki tiga orang Magister.

Masa Novisiat itu sendiri juga memiliki cerita lain bagi PADS yang lahir dan besar di Jakarta. PADS tidak memahami banyak tentang hidup seminari apalagi hidup membiara sehingga banyak sekali koreksi yang diterima. Setiap kali menerima scrutinium, PADS selalu dinilai kurang semangat Salesian. “Barangkali inilah sebabnya di kemudian hari saya diminta studi spiritualitas dan menjadi Magister Novis,” ungkapnya.

Setelah melihat kehidupan rohani umat dan anak-anak ditambah keindahan alam pedesaan pada saat misa di stasi Buibau (Timor Timur), PADS mulai merenungkan panggilannya secara serius. “Saya mau menjadi Pastor Salesian,” ucapnya pada dirinya sendiri. Masa Novisiatnya diperpanjang dua bulan pada saat teman-temannya mengikrarkan kaul pertama mereka. Setelah itu, dia diizinkan mengikrarkan kaul sementara untuk satu tahun. Bersama dengan teman Novis Manuel Fernandes, PADS mengikrarkan kaul pada tanggal 8 Juli 1989.

Dia yang memanggilmu akan memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam dirimu apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus (ibrani 13:21)

Ketika ditanya mengenai pandangannya terhadap Paroki Danau Sunter, PADS yang lahir pada 10 Juni 1969 mengatakan bahwa banyaknya kelompok-kelompok dan kegiatan yang beragam merupakan tanda yang sangat positif, bahwa keterlibatan umat dalam mengungkapan kehidupan beriman bisa dilihat. Ungkapan iman umat Paroki Danau Sunter juga masih perlu ditingkatkan pada tingkat lingkungan dan wilayah. Masih banyak umat yang hanya aktif ikut misa mingguan saja tetapi kurang aktif dalam kegiatan lingkungan dan wilayah; padahal iman kita mesti di tumbuh-kembangkan dalam suatu komunitas di mana perayaan-perayaan liturgis, devosi dan perayaan-perayaan lain (misa lingkungan, rosario, pedalaman Kitab Suci, dan lainnya). Jika hal-hal tersebut sungguh-sungguh dilakukan, akan membuat kehidupan iman lebih guyub dan tidak superfisial.

Sebagai gembala baru, PADS berpesan “Umat Paroki Danau Sunter, kita telah dianugerahi Tuhan banyak ragam bakat dan anugerah, mari kita gunakan pemberian Tuhan ini bukan saja untuk diri sendiri tetapi untuk kebaikan sesama dan Gereja. Mari kita menjadi berkat untuk orang lain.”