Pastor Andres Calleja, SDB

Terakhir diperbaharui: 15 April 2021

Selalu Siap dan Rela Membantu

Pastor Andres Calleja Ruiz, SDB, kelahiran Madrid, 30 Mei 1957, mengikrarkan Kaul Pertama pada 16 Agustus 1974. Selanjutnya kuliah filsafat di Medina (1975–1977), Tahun Orientasi Pastoral di Mohernando (1978–1980), dan kuliah Teologi di Manila (1981-1985). Lalu menerima Tahbisan Imamat di di Gereja Mary Help of Christian di Manila, tanggal 8 Desember 1984, tepatnya pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda.

Selanjutnya P.Andres berkarya di Timor Timur selama 10 tahun (1985–1996). Pada tahun 1996, menjadi Pastor Rektor di Wisma Salesian Don Bosco, Sunter. Setelah itu, ditugaskan menjadi perintis sekaligus Rektor di Komunitas SDB Sumba (2001-2002).

Tahun 2004, P.Andres diangkat sebagai Pastor Provincial Indonesia di Dili, Timor Leste, hingga Juni 2010. Selanjutnya, ditugaskan berkarya di komunitas Salesian di Instanbul, Turki.

Setelah misinya di Turki, P.Andres, yang menguasai 10 bahasa ini, resmi berkarya di Paroki Danau Sunter sebagai Pastor Rekan—mulai 1 September 2020. Beliau tiba di Jakarta pada tanggal 4 September 2020.

Berikut beberapa cuplikan interview majalah Paroki Danau Sunter: “Bosconian” dengan beliau.

Bagaimana perasaan Pastor saat mengetahui penugasan kembali ke Indonesia setelah 10 tahun berada di Turki?

Sebetulnya, selama berkarya di Turki, saya tetap merupakan Salesian untuk Provinsi Indonesia. Secara resmi, saya tidak pindah negara. Pimpinan tertinggi Salesian saat itu, yang berada di Roma, Rector Major Pascual Chávez Villanueva SDB,  yang mengatakan agar status saya tetap di Provinsi Indonesia. Maka selama saya berkarya di Turki, bagi saya jelas, bahwa suatu saat saya akan kembali ke Indonesia.

Sebenarnya, setelah selesai masa jabatan saya sebagai Pastor Rektor di Turki (6 tahun), saya punya kesempatan untuk langsung kembali ke Indonesia. Namun pada tahun 2016, Salesian Turki berpindah provinsi—dari Timur Tengah ke Jerman. Memang, ini merupakan sebuah awal yang baru. Namun, ada suatu tahap di mana pastor Salesian saat itu tinggal 3 orang. Seandainya saya kembali ke Indonesia, pastornya tinggal 2 orang. Maka saya bertahan di sana, sampai 2-3 orang yang baru datang.

Setelah beberapa waktu, datang dan tinggallah tenaga-tenaga baru yang muda, termasuk Salesian Jerman. Ini seperti perumpaan Injil Lukas 5:38 “… anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula”.  Saat itu, saya merasa inilah waktunya kembali ke Indonesia. Begitulah ceritanya.

Bagaimana karya Salesian di Turki, selama Pastor bertugas di sana?

Perlu diketahui, bahwa Salesian bekerja membantu pengungsi di Turki, telah berlangsung bertahun-tahun lamanya—sudah dimulai sejak sebelum saya datang dan berkarya di sana. Saya hanya melanjutkan, dengan ratusan anak-anak yang berada di situ. Pernah suatu saat, jumlah mereka mencapai 200-an. Kalau digabungkan dengan pengungsi dari Afrika, dan pengungsi remaja, jumlahnya lebih dari 500 orang. Tapi karena tempatnya kecil, kami membagi kedatangan mereka dalam hari dan jam yang berbeda-beda, agar kami bisa melayani dan mengajar semuanya dengan baik.

Saat ini, sayang sekali, karena pandemi COVID-19, kegiatan ini berhenti dulu. Karena banyak dari mereka yang tertular, dan tidak bisa ke rumah sakit karena status sebagai pengungsi.

Beberapa guru berinisiatif melanjutkan pelajaran dengan Whatsaap dan Zoom, untuk beberapa anak yang masih mau ikut dalam kegiatan belajar, khususnya bahasa Inggris. Ini kursus yang sangat penting bagi para pengungsi. Mereka akan melakukan banyak wawancara dalam bahasa Inggris, untuk diterima masuk ke negara yang baru dan mencari pekerjaan di sana.

Selain itu, kami juga mengajarkan pendidikan nilai-nilai dalam hidup. Kami ingin menanamkan “pikiran” kepada mereka, agar menjadi manusia yang berguna, baik, dan jujur.

Bagaimana hasilnya?

Saya pernah menerima kabar, bahwa salah satu anak pengungsi yang pernah kami bimbing di sekolah kecil ini, menjadi seorang pastor di Kanada. Dia mengirim undangan kepada kami (komunitas Salesian di Turki). Memang kami tidak bisa hadir, tapi tentu bangga karena salah satu murid kami menjadi Pastor.

Kami pun menginformasikan hal ini kepada Uskup di Turki. Dan apa katanya? “Kalian baru tahu satu? Sudah ada lima orang dari sekolah kalian, yang menjadi pastor di Kanada, Amerika Serikat, dan Australia”. Lima orang! Berarti di sekolah kecil ini—di mana mereka kursus bahasa Inggris dan bermain bersama—mereka “menerima sesuatu”. Mereka belajar sesuatu dalam suasana yang spesial. Seandainya pun tidak menjadi pastor, banyak dari mereka menjadi orang yang aktif di gereja dan sungguh-sungguh beriman.

Apa tujuan dan harapan Pastor dalam berkarya di Paroki Danau Sunter?

Pertama, saya mau mengintegrasikan diri (menyesuaikan diri dan membaur) dengan apa adanya di sini. Saya tidak datang ke sini dengan berbagai macam rencana besar, atau untuk mengadakan inovasi. Saya melihat di sini sudah ada susunan, seperti Dewan Paroki Harian, Dewan Paroki Pleno, yang semuanya berjalan ke satu arah. Masing-masing bagian tidak berdiri sendiri, namun mengikuti program dan arahan yang sudah disusun dari KAJ.

Namun seandainya saya bisa menyumbangkan pengalaman, atau ada yang bertanya, saya siap menolong dan memberikan pelayanan. Intinya, di mana pun saya bisa berguna, saya selalu rela dan pasti akan membantu. Dan ini tidak terbatas pada lingkup Paroki Danau Sunter saja. Pastor Andrew Wong (Provinsial SDB Indonesia) meminta saya pada bulan Juli 2021 memberikan retret 6 hari untuk para Salesian. Ini salah satu contoh pengalaman yang bisa saya sumbangkan.

Dalam masa pandemi Covid-19 ada pembatasan untuk bertatap muka langsung, yang berdampak pada (mungkin) berkurangnya pelayanan bertemu dengan umat. Bagaimana para pastor menghadapi kondisi ini?
Ini betul, apalagi untuk pastor lama seperti saya yang sudah terbiasa dengan “gaya kuno”. Ngobrol, ketemu, tatap muka, dan ikut dalam berbagai macam kegiatan. Memang, semua terasa serba terbatas. Saya berusaha belajar sedikit demi sedikit, membiasakan diri. Tapi sudah cukup berhasil, misalnya dengan memberikan pelajaran untuk para prodiakon baru, lewat Zoom. Juga sudah memimpin misa, mengikuti pertemuan dewan, serta melayani Lumen Christi, juga lewat Zoom. Yang penting kita punya sikap optimis untuk segala keadaan. “Jika satu pintu tertutup, maka satu pintu atau satu jendela lain sebenarnya sedang terbuka”. Selalu ada jalan untuk kita.