Pastor Tarsisius Trianto, SDB

Terakhir diperbaharui: 15 April 2021

Melayani Lebih Luas Untuk Semua Kelompok

Pastor Tarsisius Trianto, SDB (P. Anto) lahir di Jakarta, 21 November 1974 sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Panggilan untuk menjadi seorang imam sudah muncul dalam diri P. Anto sejak masa Sekolah Dasar. Setiap kali bertugas menjadi Putra Altar, muncul perasaan senang karena bisa membantu pastor dalam misa.

Saat kelas 5 SD, P. Anto ikut kelompok PUTRACARI (Putra Altar Calon Seminari) di Paroki Blok B, Gereja Santo Yohanes Penginjil. Kedua orangtua P. Anto pun sangat mendukung putranya untuk melanjutkan ke seminari setelah lulus SMP. Namun panggilan dan keinginan tersebut sempat perlahan menghilang, bahkan berubah menjadi perasaan kecewa dan sedih, ketika tidak berhasil masuk Seminari Menengah Wacana Bhakti.

Suatu hari, saat SMA, P. Anto membaca sebuah pengumuman di Paroki Bintaro, Gereja St. Matius Penginjil, bahwa ada pendaftaran seminaris baru di Seminari Stella Maris, Bogor. Tiba-tiba, keinginan untuk masuk Seminari dan menjawab panggilan Tuhan, hidup kembali! P. Anto segera mendaftar dan diterima masuk Seminar Stella Maris ketika akan tamat SMA (1994).

Semula, P. Anto tidak mengenal Don Bosco. Namun suatu hari di perpustakaan Seminari, P. Anto membaca buku “Aneka Cerita Don Bosco”. Di halaman terakhir, tertera nama Pastor Jose Carbonell, SDB dan alamat Wisma Salesian Don Bosco (SDB). P. Anto kemudian menghubungi beliau dan diundang berkunjung ke Wisma SDB untuk lebih mengenal gaya hidup para Salesian.

Melihat semangat persaudaraan antar Salesian yang sangat kuat, serta karya kerasulan Salesian kepada anak-anak dan orang muda—khususnya mereka yang miskin, P. Anto memutuskan menjadi seorang Salesian. Pendidikan Biara Salesian pun dimulai pada 1995 sebagai postulan di Futumaca, Timor Timur hingga tiba waktunya ikrar kaul kekal di Kapel Don Rua, Roma, Italia (2005).

Setelah Tahbisan Diakon (2006) dan studi spesialisasi Keteketik di Italia, P. Anto ditahbiskan pada tanggal 8 September 2007—tepat pada Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria, di Paroki Danau Sunter, Gereja St. Yohanes Bosco. Kemudian langsung bertugas di Komunitas Tigaraksa, sebagai asisten para Aspiran dan ekonom komunitas (2007-2010).

Selanjutnya, P. Anto pindah ke Wisma Sunter, sebagai anggota di komunitas delegasi ITM (2010) dan diutus ke Blitar sebagai ekonom komunitas. Pada tahun yang sama pula, P. Anto berkarya di komunitas para Bruder, Serpong, sebagai In Charge (2010-2015).

Tempat bertugas berikutnya adalah Purwodadi, Purworejo, sebagai rektor dan ekonom komunitas (2015-2020).

P. Anto tiba Paroki Danau Sunter pada 18 Juni 2020, sebagai Pastor Rekan. Bersama P. Andre Delimarta, SDB, beliau manjadi Gembala Umat Gereja Santo Yohanes Bosco. Bagi beliau, menjadi pastor rekan di Paroki St. Yohanes Bosco ini jelas berbeda dengan ketika menjadi rektor di Purwodadi.  Lingkup berkarya dan pelayanannya lebih luas dan umat yang dilayani juga lebih beraneka ragam seperti keluarga, Orang Muda Katolik (OMK), dan anak-anak.

Saya ingin dapat melayani umat Gereja Santo Yohanes Bosco untuk semua kelompok,” kata P. Anto, dalam wawancara dengan majalah Paroki Danau Sunter, “Bosconian”.

Untuk semua umat dalam masa pandemi Covid-19 ini, beliau berpesan, “Tetap bersemangat dalam seluruh kegiatan, berserah dan tidak menyerah, selalu mempraktikkan protokol kesehatan: cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan diri sendiri, dan juga menghindari kerumunan.”